…. aku tidak bertemu malam sama sekali. Siang terus. Dan itu membuatku pusing. Sempat mendarat sebentar di Geneva, Swiss untuk pemeriksaan passport. Setelah itu terbang lagi sampai rasanya, perjalannya ga berkesudahan dan aku semakin pusing dan mual.
Aku terbangun, waktu kapten bilang, pesawat sebentar lagi mendarat di Newark, dan silahkan menikmati pemandangan Manhattan dari atas. Aku merasa aku bakalan muntah. Karena mual banget. Bener aja. Saat pesawat siap-siap landing di Newark, aku muntah, muntah kaya waktu kena serangan vertigo. Tapi ajaib, setelah muntah, aku merasa sangat-sangat lega. Aku buka jendela ketika pesawat perlahan-lahan mendarat. 'Langitnya masih langit yang sama,' kata-kata BQ sebelum aku pergi, kuulang pada diriku sendiri. Tiba-tiba semua kecemasan, kepanikan, ketakutan yang sempat menyerangku sebelum pergi, hilang seketika. Release. Lepas. Apa yang akan terjadi, terjadilah.
Selamat datang di Amerika
Aku senyum membaca tulisan itu. Ya selamat datang untuk diriku sendiri. Aku siap menjalani 4 bulanku di sini. Petugas imigrasi tersenyum ramah, saat aku menyodorkan passport dan visaku. Dia nanya dalam rangka apa aku ke US. Aku jawab aja aku mau riset. Dia tersenyum sambil menanyakan surat undangan risetku. Aku menyerahkan seamplop-amplopnya, surat dari ACC. Tanpa sengaja disitu ada surat pengajuan Passport J-1 dari ACC juga. Petugas imigrasi langsung melihat ada masalah dengan visaku. Karena ternyata kedubes US di Jakarta memberiku visa yang berbeda dari yang seharusnya, jenis visa yang kudapat adalah B-1, padahal seharusnya aku dapet visa pelajar J-1. Dengan diantar petugas, aku di bawa ke ruang pemeriksaan sekunder yang lebih tertutup. Beberapa penumpang dari India, Cina, bahkan Jerman, ada juga disitu. Aku menunggu dengan tenang.
Ketika dipanggil, seorang petugas berkulit hitam menanyakan tujuanku dan apakah aku menyerahkan surat J-1ku pada kedubes AS waktu mengajukan passport. Aku bilang aku tidak memperlihatkannya karena mereka tidak menanyakannya. Tapi aku menyerahkan surat dari ACC yang menyatakan bahwa aku mengajukan permohonan visa J-1, tapi mereka tidak membacanya. Petugas nampak kaget dengan jawabanku. Aku kembali di suruh duduk. Petugas yagn memeriksaku nampak berdiskusi serius dengan temannya. Lalu aku dipanggil kembali dan ditanya, tiket pulang dan berapa uang yagn aku bawa sekarang. Aku jawab aku bawa 350 US dollar. Petugas itu dan temannya kaget. "HAH, kamu ke Amerika hanya bawa uang 350 US dollar?" tanyanya ga percaya. Aku menjawab tenang. "Besok mereka akan bawa saya ke bank untuk mengurus uang 17350 US dollar, grant yang saya dapat dari program ini," aku menyerahkan surat bukti uang jaminanku selama menjalani program ini. Kulihat muka mereka berubah. Lalu mereka menanyakan tempat tinggalku. Aku bilang aku belum tahu tepatnya, aku di jemput supir dan besok aku baru diantar ke apartemenku di Manhattan. Muka mereka bertambah bingung. Akhirnya aku diminta duduk kembali.
Petugas berkulit hitam itu nampak tidak tau apa yang harus dilakukan. Ia menyerahkan berkasku pada temannya yang beraksen latin dan berwajah sangar seperti Vigo Mortensen. Petugas itu, menelepon atasannya mengadukan soal visaku. Entah apa jawaban si atasan, tapi petugas itu nampak mengecek kembali surat-surat yang aku berikan, lalu kembali menelepon atasannya. Hal yang aku dengar darinya adalah ketika dia mengatakan bahwa kesalahannya ada di kedubes AS Jakarta. Saat itu juga aku langsung merasa lega. Tak lama kemudian, benar saja, si petugas latin mengatakan hal yang aku dengar tadi. Ini bukan kesalahanku, karena seharusnya kedubes US Jakarta menerima surat tembusan pengajuan visa ini, karena surat itu datang lebih dulu daripada pengajuan visaku. Aku kembali disuruh duduk. Tak lama, petugas berkulit hitam yang pertama memanggilku, memintaku mengisi selembar formulir dan menuliskan alamat rumahku di Bandung dan juga nama ibu kandungku, setelah itu mempersilahkan aku pergi. "Welcome to USA, miss." "Thank you very much," aku membalasnya dengan senyum.
Begitu keluar, ruang bagasi sepi. Bu Mira pun sudah tak tampak lagi. Tasku berdiri di sudut ruangan. Aku menariknya dengan susah payah. Karena rasanya seperti lebih berat dari sebelumnya. Aku kembali harus melewati ruang pemeriksaan terakhir sebelum keluar. Dengan jujur aku menyebutkan bahwa aku bawa daging sapi yang sebetulnya adalah Abon sapi. Petugas yang memeriksa tasku, seorang perempuan masih muda. Dia tidak memintaku mengeluarkan seluruh isi tasku. Dia hanya minta aku mengeluarkan abon itu dengan sopan dia bilang bahwa aku ga bisa membawa abon itu, karena daging dari Indonesia tidak diperbolehkan masuk ke AS. Ya, dengan terpaksa kurelakan abon sapi H. A.N. Sutisna yang terkenal enak itu dibuang ke tempat sampah.
Pemeriksaan yang lama membuat supir yang seharusnya menjemputku di pintu keluar, tidak ada lagi di tempatnya. Aku menelepon nomer operator yang diberikan Marlen Turino, Assistant Program Officer ACC, sebelum berangkat. Meski sempat mencari-cari, akhirnya ketemu. Supir taxi mewah itu, orang Sikh. Dia sempat marah padaku karena aku menelepon dari dua telepon umum yang berbeda. Sehingga dia coba menghubungiku di nomer telepon pertama, tidak bersaut. Aku minta maaf. Perlahan, mobil melaju meninggalkan Newark menuju Manhattan.
Selamat datang di New York, kataku dalam hati. Saat melewati billboard pertunjukan di Broadway. Selamat datang di Pod hotel Mahattan, dimana aku menghabiskan malam pertamaku di US.
***
Hey, surat ini menjadi begitu panjang. Hal-hal pertama yang dialami dalam hidup pastinya akan selalu mengesankan dan sayang jika lewat diceritakan.
Tarlen
“if you want to be understood... listen” babel - Alejandro gonzales Innarritu
| |