tobucil's posts with tag: editorial
Senin sore itu, Si Putih, modem pinjaman Tobucil berbisik-bisik memanggil Tobuciler. “Psssst … psssst … fotoin aku, dong … “ “Kenapa ?” “Foto aja dulu … emangnya kamu nggak kepengen nulis tentang aku apa ?” “Kenapa harus ?” Si Putih tidak menjawab. Diamnya misteri, tapi tidak menakutkan. Yang aneh, entah mengapa sore itu Tobuciler sangat ingin memenuhi permintaannya. Putih adalah modem ke dua yang dipinjam Tobucil. Dia wireless, namun fungsinya sama saja dengan modem dial-up; hanya available untuk satu komputer. Biar bagaimanapun, segenap Kru Tobucil tetap menyayanginya. Kami menerima Putih sebagai keluarga. Pada hari Rabu, Tobuciler kembali datang ke Tobucil. Komputer pusat dan laptop Mas Andre tampak sedang on line bersama-sama. “Lho ? Udah bisa, ya ?” tanya Tobuciler. “Udah kayaknya, cobain aja …,” sahut Mas Andre. Tobuciler pun mencoba on line dan … JREEENG … Setelah berminggu-minggu Tobucil hidup tanpa wi-fi, Putih memberikan kejutan manis yang menggembirakan. Sekarang Tobuciler tahu mengapa harus menulis tentang Si Putih. Hari-hari ke depan akan ada kejutan apa lagi, ya ? Kita tidak pernah tahu … Semoga hari-harimu pun akan penuh kejutan hangat yang menyenangkan Salamatahari, semoga kami selalu mencerahkanhari … Tobuciler untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Minggu ini, ada seorang teman yang berkomentar, “Jangan pake ‘selamat pagi’. Kalo denger sapaan ini jadi males...., ga ta kenapa klo dengar ‘selamat pagi’ tuh kaya sama dengan ‘selamat bekerja’.” Tobuciler baru sadar kalau “selamat pagi” bisa membawa pengaruh yang berbeda. Bukannya menghidupkan, salam itu justru membunuh. Maknanya jadi sama dengan “I don’t like Monday” yang populer itu. Bagi sebagian orang, bekerja adalah kegiatan yang tidak menyenangkan. Faktornya bisa macam-macam. Mungkin rutinitas yang menjemukan. Mungkin suasana kerja yang tidak menyenangkan. Mungkin jenis pekerjaan yang bersebrangan dengan idealisme. Mungkin ini. Mungkin itu. Mungkin apa saja. Itu sebabnya, kami datang untuk mencerahkan harimu. “Selamat pagi” sama artinya dengan “selamat memulai hari yang menyenangkan”, nadanya seperti cericau burung di pagi hari. Kami pun datang di setiap Seninmu untuk membagi cerita-cerita baru, semoga dapat meniup kekelabuan “I don’t like Monday” yang menudungi awal minggu kerjamu. Oh, iya. Beberapa waktu yang lalu, Nunuws, seorang teman dari Bandung Advertiser mewawancara Wiku, koordinator Klab Tobucil. Apa saja, sih, yang mereka obrolkan ? Cek, deh, di Bandung Advertiser edisi malam Jumat Kliwon minggu ini (26 Juni 2008). Niscaya malam Jumat Kliwon teman-teman akan jauh dari kesan horor. Akhir kata, selamat pagi, selamat bekerja. Semoga kami selalu mencerahkan hari Salamatahari, kehangatan kami akan selalu menemanimu ^_^ Tobuciler untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Selamat pagi, selalu selamat pagi ^_^ Selama hampir dua minggu modem Tobucil dirawat inap. Kru Tobucil harus berjuang sendiri mencari koneksi internet. Mbak Elin harus pergi ke warnet. Wiku terpaksa mengantarkan bahan “Jazz and Book” secara manual kepada Mas Syauqie Rase FM. Tobuciler harus mengupload cepat-cepat karena voucher hotspotnya hanya berlaku dua jam. Hingga pada hari Rabu lalu, Mas Andre membawa pencerahan. Dia meminjam modem dari temannya, khusus untuk Tobucil. “Tapi ini bukan wireless, cuma bisa buat satu komputer,” Mas Andre menginformasikan. Kedatangan modem lumayan mempermudah kinerja Tobucil. Paling tidak perdagangan benang berjalan lebih lancar, bahan “Jazz and Book” dapat dikirim, dan blog bisa dicek lebih sering. Terima kasih pada Mas Andre, dan tentunya si modem pinjaman itu sendiri ^_^ Selain si modem relawan, minggu ini Tobucil mendapatkan banyak teman baru. Antara lain Liya dan teman Klab Nulis lainnya, penggulung benang listrik, dan Mbak Christine. Mereka semua diceritakan di blog edisi ini. Kamu pun bisa berkenalan dengan mereka dan menganggap mereka temanmu juga … Semoga mereka bisa menghangatkan hatimu … Salamatahari, semogaselalucerah … Tobuciler
untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
“Hari ini kamu nggak bisa ngupload, modemnya jebol,” kabar Mbak Elin Senin itu begitu Tobuciler tiba di Tobucil. “Yah … terus gimana, dong ?” Tobuciler mendadak bingung. “Nggak tau. Tadi aja saya musti ke warnet pas mau chatting sama Tarlen …,” sahut Mbak Elin. Apa jadinya kehidupan Tobucil tanpa koneksi internet ? Hampir seluruh aspek hidup Tobucil tergantung di sana. Apa jadinya perdagangan benang, hubungan dengan Ibunda, blog Tobucil, email, bahkan kehidupan teman-teman AJI, tanpa internet ? Sambil mengupload di BEC, Tobuciler mencoba mereka-reka. Ternyata, ketiadaan koneksi internet membangun koneksi lain di Tobucil. Teman-teman AJI, Kru Tobucil, bahkan Roy, budayawan bule yang sering nongkrong untuk berhotspot di Tobucil, saling berkoneksi dengan hangatnya. Teman-teman AJI, yang biasanya serius dengan berita, tahu-tahu membagi setumpuk tebak-tebakan garing. Mas Andre dan Mbak Elin kompak jalan-jalan membeli jaket. Laras dan Tobuciler asyik curhat-curhatan. Bahkan Roy duduk bergosip dengan Mbak Upi sambil belajar bahasa Sunda. Mungkin saja modem internet dan tegangan listrik yang naik turun di Tobucil memang sengaja bekerja sama. “Tobucil mulai agak dingin,” ujar mereka, “Sudah saatnya kita beri mereka kesempatan menghangatkan diri …” Semoga kehangatan ini pun menghangatkan kamu, Salamatahari, Tobuciler untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Minggu ini sebetulnya cukup banyak yang terjadi di Tobucil. Mulai dari Mas Banung yang tahu-tahu hobi chatting, modem yang tanpa alasan jelas dipindahkan ke sebelah komputer, bermasalahnya koneksi internet seiring sakitnya Tobuciler, terselesaikannya masalah koneksi seiring sembuhnya Tobuciler, kedatangan stabilizer sebagai anggota baru keluarga Tobucil, sampai terakhir, Nia, salah satu sahabat terkasih Tobucil, kehilangan Abahnya secara mengejutkan. Minggu ini sebetulnya cukup banyak yang terjadi di Tobucil. Banyak sekali sampai tak terkejar kata-kata. Inilah blog Tobucil minggu ini. Sebetulnya ada lebih banyak lagi yang terjadi, namun kata-kata hanya mampu mengejar sejauh ini. Salamatahari, masihselamatpagi Semoga kami tetap mencerahkan hari dengan apa yang bisa diberi … ^_^, Tobuciler n.b. Berikut adalah foto pemuda yang minggu lalu bersembunyi di balik sarung. Merasa kenal …? untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Sesuai dengan saran Ibunda di Amerika, mulai edisi ini editorial diberi judul. Moga-moga gaya baru ini lebih menyamankan teman-teman pembaca ^_^v
Minggu ini, Tobuciler bertemu dengan seorang teman. “Kenapa, ya, akhir-akhir ini buka blogspot susah banget?” tanya dia. “Masa’?” Tobuciler balik bertanya. “Iya. Saya jadi nggak bisa baca blog Tobucil. Cuma dapet sedikit, terus harus klik ‘more’ untuk tau selebihnya …” “Jangan liat dari multiply, langsung ke www.tobucil.blogspot-nya aja …” “Kan kantor saya pakainya multiply, jadi, saya biasanya inget buka blog Tobucil waktu buka multiply kantor …” Hmmm … begitu, ya … Berangkat dari obrolan itu, Tobuciler memutuskan untuk sedikit mengubah sistem pengaplotan. Mulai edisi ini, semua artikel dari blogspot akan diimport lengkap ke multiply. Horeeee !!!! Tapi …. Supaya tetap mengandung unsur-unsur kejutan, foto-foto dari blogspot tidak ikut diaplotkan ke multiply. Jadi, teman-teman yang mengakses blog Tobucil dari multiply, dapat membaca artikel sambil dengan berdebar menunggu window bermuatan foto dibuka … hehehehe …. Seperti sekarang, nih … di bawah editorial ini, ada sebuah “iseng-iseng tidak berhadiah”. Coba tebak siapa semacam pemuda ronda yang bersembunyi di balik sarung ini? Jawabannya ada di blog Tobucil minggu depan ;) Minggu depan, blog Tobucil juga akan menghadirkan surat dari Ibunda di Amerika. Apa isi suratnya …? Hmmm … kejutan, dong ^_^… Tobuciler juga ingin meralat kesalahtulisan nama lengkap Bumi pada rubrik “Teman Tobucil” edisi lalu. Seharusnya Bumi Hadyarti, bukan Hardyarti. Maaf, ya …. Akhir kata yang mengawali hidup, Salamatahari … semoga kami selalu mencerahkanhari ^_^ v Tobuciler
untuk melihat artikel dengan foto klik di sini
Minggu lalu, ketika sedang mengupload, Tobuciler mendengar suara “kresek-kresek” dari kolong meja Mbak Tarlen. Waspada sekaligus takut, Tobuciler memeriksanya. Lalu … cluk … seekor belalang melompat ke koper rotan Mbak Tarlen. Tobuciler tersenyum lega. Karena tidak takut belalang, Tobuciler tidak keberatan dia datang menemani. Ternyata belalang itu cukup setia teman-teman. Sampai Tobuciler selesai mengupload, dia masih saja bercokol di sekitar meja. Mungkin dia pikir Tobucil ini kebun, ya. Nuansa serba hijau dan koper rotan yang mirip kayu alami membuat dia merasa ada di rumah. Yang pasti, kehadiran si belalang membuat sepanjang minggu Tobucil terasa semakin menyenangkan. Sepertinya ada lebih banyak cerita menarik yang bisa dibagi. Sepertinya ada lebih banyak teman yang datang berkunjung. Tobuciler yakin aura kebun yang dibawa si belalang mengundang banyak kesegaran dan hal baik tertiup masuk Tobucil. Berikut ini adalah foto si belalang. Dia sendiri sekarang entah ada di mana. Kita yang akan membuatnya abadi ^_^ Salamatahari, semoga kami selalu mencerahkanhari … Tobuciler
untuk melihat foto si belalang, klik di sini
Sekarang kartu itu terpajang secara baik-baik di antara kertas-kertas “berharga” lain di Tobucil. Nah, supaya teman-teman bisa ikut melihatnya, Tobuciler memasang foto kartu tersebut di halaman ini. more
Seven, that's the time we leave - at seven I'll be waiting up for heaven … Sentimental Journey-Frank Sinatra
Tujuh adalah angka yang istimewa, terutama untuk Tobucil. more
Salamatahari .... Selamat pagi ... Setelah tadi pagi merasa sedih karena komputer setempat di tidak mau diakrabi (lihat postingan "Komputer Setempat Ngambek" ), akhirnya Tobuciler berhasil menemukan komputer lain yang lebih kooperatif. Komputer ini tinggal di rumah yang sama dengan "komputer setempat". Mereka masih bersaudara. Bedanya, more
Punten ... Minggu ini, karena satu dan lain hal, blog Tobucil posting lebih awal. Meskipun Lebaran sudah lama berlalu, moga-moga semangat memaafkan masih berkobar di hati pembaca =D Mulai edisi ini, more
| |