tobucil's posts with tag: papan tulis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag papan tulis

Tersesat. Itu jadi kata yang akrab buatku di hari-hariku selama dua minggu
pertama di NY. Aku bukan manusia 'kompas yang terbiasa dengan arah

Mata angin utara, selatan, barat dan timur. Sementara di NY, east dan west adalah hal yang penting dalam menemukan sebuah alamat. Aku terbiasa dengan kiri dan kanan dan ternyata hal itu malah membingungkan di NY.

Setelah melalui malam pertama di apartemenku di upper east side itu,
besok paginya aku harus ke kantor ACC di E 48 street 5th avenue. Dari Lexington Avenue, dekat apartemenku itu, aku memilih naik bis. Aku ga (baca: belum) berani
naik subway, karena kalau tersesat aku ga bisa liat sekelilingnya, mengingat
subway ada di bawah tanah. Sementara kalau aku naik bis, aku bisa sekalian
menandai jalan dengan ancer-ancer bangunan yang ada di sekelilingnya (meski
ingatanku juga sebenernya ga tajem-tajem amat). Meski sudah mempelajari rute
bus malam sebelumnya, tetap saja, aku belum menangkap logika arah dan rute bis
di NY. Aku naik bis di Lexington Avenue menuju 48 street dengan sangat hati
hati dan juga tegang. Ketegangan yang sekarang aku malah aku tertawakan jika
mengingatnya. Aku konsetrasikan diriku untuk mengingat dan mencerna rute perjalanan
yang harus ku tempuh, karena aku merasa masih sangat letih dengan perjalanan
yang panjang dari Indonesia ke Amrik ini alias masih jetlag.

***

Aku terlambat 30 menit. Seharusnya ku datang pk. 11.00, tapi aku sampai
pk. 11.30. Karena aku salah arah harusnya ke timur, malah ke barat.. kelewat
beberapa blok. Lagi pula, aku juga masih bingung dengan pembagian jalan yang
berdasarkan avenue, karena sebelum 5th avenua, yang ku temukan adalah madison
avenue dan park avenue. Tentunya, buat yang baru pertama ke NY, penamaan ini
membingungkan. Nyari 4th avenua ga ketemu, karena aku harus ke 5th Avenue. Dan
sebagai mana New Yorker lainnya, pencarian seperti itu, lebih mudah jika
dilakukan dengan berjalan kaki. Dengan ngos-ngosan (karena di

Bandung,kebiasaan kemana-mana naik motor), akhirnya kutemukan juga kantor ACC.

Hari itu agendanya adalah meeting membicarakan rencana jadwal kegiatanku
selama 2 minggu pertama. Siang itu aku seharusnya meeting dengan Margaret
Cogswell dan Jennifer Poole juga. Tapi ternyata Jennifer baru bisa datang jam 1
siang. Sambil nunggu aku memutuskan untuk pergi ke Strand Bookstore, toko buku
second yang direkomendasikan temanku di Bandung.Dengan berbekal alamat dan
peta, aku coba mencapai Strand Bookstore yang belakangan aku tau bahwa Strand
Bookstore ada dekat Union Square.

bersambung...

Tarlen



Blog EntrySurat Dua Minggu PertamaJun 16, '08 12:12 AM
for everyone

Dua Minggu Pertama: Dari Hotel The Pod ke Apartement Upper East Side

Hotel The Pod letaknya di 230 East 51th Street, hotel kecil kamarnya kira-kira 4X4 meter udah termasuk kamar mandi. Tempat tidur yang ukurannya agak aneh menurutku, karena posisi kepala tempat tidurnya ada di samping. Jadi kalo ngikutin posisi kepala tempat tidurnya, kakinya jagi ngegantung gitu. Dan karena tidak terbiasa dengan urusan mesin pendingin dan pemanas ruangan, malam itu aku hampir membeku karena aku ga menemukan dimana tombol pemanasnya. Baru menjelang pagi, setelah dicari-cari akhirnya ketemu juga, tapi udah keburu susah tidur karena matahari keburu tinggi dan chatting sama temen-temen di Indonesia mengalahkan kantuk di malam pertama. Oya, hotel ini ada wifi gratis, makanya itu jadi satu-satunya hiburan buatku di tengah-tengah jetlag dan ruangan yang dingin. O ya sesuai dengan namanya.. ada fasilitas ipod speaker di dalemnya... kita bisa plug in ipod disitu. Harganya permalem 179 US Dollar.

Pagi (16 April 10:30 am), aku jalan dari hotel ke west 48th street ke kantor ACC. Duh sempet bingung nyariin dan sempet bolak-balik di 48th street nyari kantornya dari east ke west.. dan aku belum ngeh kalo di Manhattan, west dan east itu menjadi penting, tapi akhirnya ketemu. Sambil nenteng sarapan, burger dan kopi yang aku beli di kedai pinggir jalan.. 3 dollar... aku dateng ke kantor ACC... terlambat 30 menit sambil ngos-ngosan. Senengnya. Margaret Cogswell, program officerku sangat ramah dan welcome banget. Dia memperkenalkan aku pada staf ACC yang lain. Setelah perkenalan, Margaret memintaku istirahat setelah sampai di apartemen nanti. Tampangku keliatan blah bloh banget waktu itu.. cape dan jet lag. Marlene Torino, program assistant_ibu-ibu Itali yang baik banget_ membawaku ke bank untuk buka rekening di HSBC, grant buatku bisa aku akses lewat rekening ini. Setelah itu aku balik lagi ke hotel. Aku check out, tgl 16 siang Marlene Torino mengantarku ke Apartemenku untuk 4 bulan ke depan...

***


Rasanya kaya mimpi, aku ngerasain tinggal di apartemen studio lokasinya hanya 3 blok aja dari Central Park yang terkenal banget itu. Penghuni sebelumnya, seniman perempuan dari China yang mempelajari soal lighting. Pada olimpiade di Beijing nanti, Lea Shao namanya akan bekerja bareng Zhang Yi Mou untuk menggarap pembukaan olimpiade di sana. Hebatnya, Lea adalah perempuan Cina pertama ahli lighting untuk pertunjukan.

Lea baik banget, membantuku menjelaskan banyak hal soal apartemen ini... gimana ini dan itunya.. dan kalo ada yang kurang jelas, jangan segan2 untuk nanya dia...

Marlene yang merasa orang Indonesia dan orang Itali punya banyak persamaan dalam nilai-nilai keluarga, mentraktir aku dan Lea makan siang, di restoran itali, di deket situ.. duh.. tempatnya asyik banget.. Pertama kali deh aku ngerasain Lasagna yang asli heheheh sayang aku ga sempet motret restorannya... ntar aku mau balik lagi ah... porsinya gede banget.. sampe aku ga bisa menghabiskannya...

Hari yang menyenangkan untuk mulai menikmati New York.. semua terasa bersahabat.. semua terasa mudah jalannya... Terima kasih Tuhan...telah memberiku begitu banyak kemudahan pada perjalanan ini...

“if you want to be understood... listen” babel - Alejandro gonzales Innarritu

Tarlen

Blog EntryWelcome to America, Miss .. ! (2)Jun 9, '08 9:40 PM
for everyone
…. aku tidak bertemu malam sama sekali. Siang terus. Dan itu membuatku pusing. Sempat mendarat sebentar di Geneva, Swiss untuk pemeriksaan passport. Setelah itu terbang lagi sampai rasanya, perjalannya ga berkesudahan dan aku semakin pusing dan mual.

Aku terbangun, waktu kapten bilang, pesawat sebentar lagi mendarat di Newark, dan silahkan menikmati pemandangan Manhattan dari atas. Aku merasa aku bakalan muntah. Karena mual banget. Bener aja. Saat pesawat siap-siap landing di Newark, aku muntah, muntah kaya waktu kena serangan vertigo. Tapi ajaib, setelah muntah, aku merasa sangat-sangat lega. Aku buka jendela ketika pesawat perlahan-lahan mendarat. 'Langitnya masih langit yang sama,' kata-kata BQ sebelum aku pergi, kuulang pada diriku sendiri. Tiba-tiba semua kecemasan, kepanikan, ketakutan yang sempat menyerangku sebelum pergi, hilang seketika. Release. Lepas. Apa yang akan terjadi, terjadilah.

Selamat datang di Amerika

Aku senyum membaca tulisan itu. Ya selamat datang untuk diriku sendiri. Aku siap menjalani 4 bulanku di sini. Petugas imigrasi tersenyum ramah, saat aku menyodorkan passport dan visaku. Dia nanya dalam rangka apa aku ke US. Aku jawab aja aku mau riset. Dia tersenyum sambil menanyakan surat undangan risetku. Aku menyerahkan seamplop-amplopnya, surat dari ACC. Tanpa sengaja disitu ada surat pengajuan Passport J-1 dari ACC juga. Petugas imigrasi langsung melihat ada masalah dengan visaku. Karena ternyata kedubes US di Jakarta memberiku visa yang berbeda dari yang seharusnya, jenis visa yang kudapat adalah B-1, padahal seharusnya aku dapet visa pelajar J-1. Dengan diantar petugas, aku di bawa ke ruang pemeriksaan sekunder yang lebih tertutup. Beberapa penumpang dari India, Cina, bahkan Jerman, ada juga disitu. Aku menunggu dengan tenang.

Ketika dipanggil, seorang petugas berkulit hitam menanyakan tujuanku dan apakah aku menyerahkan surat J-1ku pada kedubes AS waktu mengajukan passport. Aku bilang aku tidak memperlihatkannya karena mereka tidak menanyakannya. Tapi aku menyerahkan surat dari ACC yang menyatakan bahwa aku mengajukan permohonan visa J-1, tapi mereka tidak membacanya. Petugas nampak kaget dengan jawabanku. Aku kembali di suruh duduk. Petugas yagn memeriksaku nampak berdiskusi serius dengan temannya. Lalu aku dipanggil kembali dan ditanya, tiket pulang dan berapa uang yagn aku bawa sekarang. Aku jawab aku bawa 350 US dollar. Petugas itu dan temannya kaget. "HAH, kamu ke Amerika hanya bawa uang 350 US dollar?" tanyanya ga percaya. Aku menjawab tenang. "Besok mereka akan bawa saya ke bank untuk mengurus uang 17350 US dollar, grant yang saya dapat dari program ini," aku menyerahkan surat bukti uang jaminanku selama menjalani program ini. Kulihat muka mereka berubah. Lalu mereka menanyakan tempat tinggalku. Aku bilang aku belum tahu tepatnya, aku di jemput supir dan besok aku baru diantar ke apartemenku di Manhattan. Muka mereka bertambah bingung. Akhirnya aku diminta duduk kembali.

Petugas berkulit hitam itu nampak tidak tau apa yang harus dilakukan. Ia menyerahkan berkasku pada temannya yang beraksen latin dan berwajah sangar seperti Vigo Mortensen. Petugas itu, menelepon atasannya mengadukan soal visaku. Entah apa jawaban si atasan, tapi petugas itu nampak mengecek kembali surat-surat yang aku berikan, lalu kembali menelepon atasannya. Hal yang aku dengar darinya adalah ketika dia mengatakan bahwa kesalahannya ada di kedubes AS Jakarta. Saat itu juga aku langsung merasa lega. Tak lama kemudian, benar saja, si petugas latin mengatakan hal yang aku dengar tadi. Ini bukan kesalahanku, karena seharusnya kedubes US Jakarta menerima surat tembusan pengajuan visa ini, karena surat itu datang lebih dulu daripada pengajuan visaku. Aku kembali disuruh duduk. Tak lama, petugas berkulit hitam yang pertama memanggilku, memintaku mengisi selembar formulir dan menuliskan alamat rumahku di Bandung dan juga nama ibu kandungku, setelah itu mempersilahkan aku pergi.
"Welcome to USA, miss."
"Thank you very much," aku membalasnya dengan senyum.

Begitu keluar, ruang bagasi sepi. Bu Mira pun sudah tak tampak lagi. Tasku berdiri di sudut ruangan. Aku menariknya dengan susah payah. Karena rasanya seperti lebih berat dari sebelumnya. Aku kembali harus melewati ruang pemeriksaan terakhir sebelum keluar. Dengan jujur aku menyebutkan bahwa aku bawa daging sapi yang sebetulnya adalah Abon sapi. Petugas yang memeriksa tasku, seorang perempuan masih muda. Dia tidak memintaku mengeluarkan seluruh isi tasku. Dia hanya minta aku mengeluarkan abon itu dengan sopan dia bilang bahwa aku ga bisa membawa abon itu, karena daging dari Indonesia tidak diperbolehkan masuk ke AS. Ya, dengan terpaksa kurelakan abon sapi H. A.N. Sutisna yang terkenal enak itu dibuang ke tempat sampah.

Pemeriksaan yang lama membuat supir yang seharusnya menjemputku di pintu keluar, tidak ada lagi di tempatnya. Aku menelepon nomer operator yang diberikan Marlen Turino, Assistant Program Officer ACC, sebelum berangkat. Meski sempat mencari-cari, akhirnya ketemu. Supir taxi mewah itu, orang Sikh. Dia sempat marah padaku karena aku menelepon dari dua telepon umum yang berbeda. Sehingga dia coba menghubungiku di nomer telepon pertama, tidak bersaut. Aku minta maaf. Perlahan, mobil melaju meninggalkan Newark menuju Manhattan.

Selamat datang di New York, kataku dalam hati. Saat melewati billboard pertunjukan di Broadway. Selamat datang di Pod hotel Mahattan, dimana aku menghabiskan malam pertamaku di US.

***

Hey, surat ini menjadi begitu panjang. Hal-hal pertama yang dialami dalam hidup pastinya akan selalu mengesankan dan sayang jika lewat diceritakan.

Tarlen


“if you want to be understood... listen”
babel - Alejandro gonzales Innarritu

Blog EntrySurat Pertama: Welcome to America, Miss ..!Jun 2, '08 12:59 AM
for everyone
Hai apakabar semuanya? aku di sini baik-baik saja. Tak terasa ya, aku sudah sebulan lebih di sini. Sejauh ini, semuanya berjalan dengan baik. Meski lebih sering sendiri, tapi banyak hal yang bisa kulakukan. Aku ingin berbagi cerita tentang perjalananku ini.. Ini kisahku di dua minggu pertama.


Seperti Perjalanan Tak Berujung

Aku berangkat, tanggal 14 April 2008 dari Bandung. Sekitar pukul 15:30 Wib. dengan menggunakan travel Cipaganti menuju Bandara Soekarno Hatta. Banyak teman datang melepas kepergianku di tobucil. Ini pertama kalinya aku pergi jauh dalam waktu yang lama 4 bulan, meninggalkan tobucil dan Bandung. Selama-lamanya aku pergi, ga pernah lebih dari sebulan. Aku percaya, tobucil akan baik-baik saja bersama teman-temanku di Bandung. Ibuku sempat datang ke tobucil ingin melepas kepergianku bersama beberapa ibu-ibu tetangga kami, tapi ibu terlambat, dia baru datang jam 5 sore.

Sampai di Soekarno Hatta, jam menunjukan pukul 19:30 Wib. Aku menunggu loket Qatar Airways dibuka untuk check in. Waktu antri, seorang ibu di sebelahku bertanya: "Mau kemana dik?".
Aku jawab" New York."
"Wah kita sama ya.. di Newark atau JFK?" tanya ibu itu lagi.
"Newark , Bu," jawabku.
"Wah kita sama. Saya baru pertama kali. Nanti kita duduknya sebelahan ya," kata ibu itu yang belakangan aku tahu namanya Mira.

Aku ngga beratan duduk bersama ibu Mira. Malahan enak ada temennya. Sama-sama baru pertama ke New York. Ibu Mira akan mengunjungi adiknya yang baru melahirkan. Tapi rupanya, pas check ini, bawaan ibu Mira, melebihi berat maksimum. Terpaksa dia harus membongkar tasnya dan mengurangi bawaannya. Untung saja, karena sebelumnya diingatkan untuk konfirmasi ke kantor Qatar Jakarta, aku jadi tahu maksimum berat untuk setiap koper adalah 23 kg dan maksimum koper yang dibawa, 2 buah saja.

Aku check in duluan dan check imigrasi. Sampai di dalam ruang tunggu aku ketemu banyak rombongan TKW yang mau berangkat ke timur tengah. Penerbangan tengah malam (pesawatku pk 23:35 Wib) memang banyak membawa rombongan TKW. Ibu Mira, muncul setengah jam sebelum boarding. Dia terpaksa meninggalkan setengah oleh-oleh titipan.
"Ya mau gimana lagi, daripada saya harus bayar 50 dollar," katanya setengah menyesal.

Di ruang tunggu keberangkatan, hampir 2/3 penumpang adalah rombongan TKW. Melihat TKW aku jadi inget beberapa narasumber risetku dulu: bu Aminah, Dedeh Heni, gimana ya kabar mereka?. Duduk di sebelahku, TKW asal Indramayu.
Aku bertanya padanya:"Berangkat kemana mba?"
"Jordan," jawab mba disampingku dengan logat Indramayu yang kental.
"Baru pertama?" tanyaku lagi.
"Engga ini sudah yang ke empat kali."
"Semua di Jordan?"
"Pernah di Saudi, Kuawit, Qatar baru Jordan."
"Gajinya lumayan mba?"
"Yang paling lumayan ya di Qatar, bisa sampe 2 sampai 2.5 juta. Kalo di Kuwait sama Jordan sih kecil, paling besar 1.5 jt."
"Majikannya gimana?" aku teringat apa yang menimpa Dedeh Heni tempo hari.
"Baik, saya mah selalu dapat yang baik. Alhamdulillah," jawaban mba itu, ikut membuatku lega. "Syukurlah."
"Oya, perusahaan yang ngirim mba atau sponsor, minta bagian ga dari gaji yang mba dapet?" aku jadi ingin tahu, mengingat dari kasus-kasus yang ada, banyak sekali perusahaan sponsor memotong gaji para TKW, sebagai komisi yang wajib dibayarkan TKW kepada sponsor.
"Engga. Sekarang mah udah ngga ada gitu-gitu," si mba menguap. Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan di antara kami. Dia tidur, aku pun tidur.

Terbangun, saat waktu makanan datang. Dan tak ada yang bisa dilakukan, selain tidur sesudah makan. Lalu kembali bangun saat makan tiba. Tak terasa, pesawat mendarat di Doha, Qatar. Semua penumpang turun, karena kami yang menuju Eropa dan Amerika harus berganti pesawat dan transit selama 1.5 jam sebelum perjalanan berikutnya. Sambil menunggu waktu boarding selanjutnya, aku dan bu Mira, jalan-jalan ke duty free bandara. Begitu liat konter jam tangan Swatch mataku langsung mencari-cari Swatch kotak model terbaru. Dapetlah satu. Barangnya baru bisa diambil sekalian boarding.

Pemeriksaan lumayan ketat. Aku harus buka sepatu, sabuk, jam tangan, laptop harus dikeluarkan dari ranselku. Kejadian tak terduga, justru waktu aku ngambil belanjaanku.
"Indonesia?" penjaga barangnya bertanya padaku.
Aku mengangguk sambil memperhatikan penjaga itu. Dia perempuan Asia. Mengingat wajah Asia bisa saja dari Vietnam, Filipina, Singapura, bukan hanya Indonesia. Si penjaga tersenyum lebar padaku.
"Selamat jalan ya kak," katanya lagi.
Aku tersenyum lebar "Terima kasih ya," jawabku padanya.

Di pesawat tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain tidur, makan dan diselingi nonton film. Aku malah nonton There Will be Blood Daniel Day Lewis dan Junonya Eleen Page di pesawat. Percuma membuka jendela, yang ada silau, karena …

Bersambung …


Tarlen

Blog EntryMengikuti Diskusi Buku di TobucilMay 18, '08 11:56 PM
for everyone

cerita bersambung, tamat

oleh : Andika Budiman


sarkastisnya! Dan lagi ini adalah cerita fiksi. Kita bisa membuat cerita dengan menambahkan elemen-elemen apapun sesuai dengan kebutuhan cerita. Pembaca mana yang mau baca kehidupan sehari-hari yang standar? Lihat saja Le Petit Prince, elemen-elemen fantasi yang ditambahkan di sana jauh lebih banyak dari buku saya!

***

Sejak Reza membandingkan bukunya dengan Le Petit Prince more

Blog EntryMengikuti Diskusi Buku di TobucilMay 12, '08 12:44 AM
for everyone

cerita bersambung, seri ke tiga

oleh : Andika Budiman

“Diskusinya jadi seru ya, Mas?” tanya Intan sembari cengengesan.

“Iya!” Aku turut tersenyum. “Tapi kamu kok nggak ikut bertanya?”

“Aku kan belum baca bukunya!” sahut Intan. “Tapi more

Blog EntryMengikuti Diskusi Buku di TobucilMay 5, '08 5:43 AM
for everyone
BUDA: Kalau saya dua tahun. Setahun buat menulis. Setahun buat menawarkan naskah. Gramedia tertarik, tapi nggak berani menerbitkan karena isinya agak sensitif. Grasindo nggak memberi kabar, untung ketemu Gragas! Awalnya ada adu argumen antara saya dan editor. Saya mau ada gambar kecoa di sampul bukunya, tapi ditolak editor. Akhirnya more

Blog EntryTobucil 7 TahunMay 5, '08 5:39 AM
for everyone
Selamat pagi tobucil,
Hari ini (waktu Indonesia) kamu berulang tahun yang ke 7. Ibarat anak kecil, kamu baru siap masuk SD. Semua proses belajarmu selama 7 tahun ini, terasa begitu cepat berlalu. Semua jatuh bangunmu, semua hal buruk, kesalahan yang pernah kau lalui selama 7 tahun ini, mengantarmu sampai di hari ini_hari dimana kamu siap tumbuh dewasa.

Lihat wajahmu di cermin, kamu bukan anak-anak lagi sekarang. Kamu sudah siap more

Blog EntryMengikuti Diskusi Buku di TobucilApr 28, '08 1:27 AM
for everyone

koordinator kegiatan Tobucil, mengajak kami mengikuti diskusi buku bertema seram ini.

Gadis-kacamata-penjaga-buku-tamu kini berdiri dan mengetukkan sendok ke gelas beberapa kali. “Harap tenang! Acaranya mau dimulai!” serunya lantang. “Selamat sore! Selamat datang di diskusi buku bertema LGBT yang diselenggarakan Qmunity bersama Tobucil sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Q! Film Festival. Sebelumnya saya ingin more

Blog EntryMengikuti Diskusi Buku di TobucilApr 20, '08 7:15 AM
for everyone

Titik air kecil-kecil berjatuhan di kepala saat aku dan adik perempuanku, Intan, turun dari angkutan kota. “Ya Tuhan mudah-mudahan jangan sampai deras, nanti kami repot pulang,” aku mengeluh. Setelah membayar, kami masuk ke pekarangan Tobucil—kependekan dari toko buku kecil.

“Doa yang egois!” omel Intan menyebalkan. “Buat apa takut hujan. more

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help