tobucil's posts with tag: teman tobucil
Belakangan ini, Madrasah Filsafat menjadi salah satu Klab yang paling mengenyangkan. Bergabungnya Mbak Linda Rahmawati, seiring sejalan dengan bergabungnya kue-kue yang hampir selalu dia bawa.
Ramah, manis, murah senyum, bersahaja, rajin sholat, tidak terlalu konfrontatif, tapi betah dan setia menghadiri madrasaf filsafat yang topiknya senantiasa menggalaukan. Mungkin di dunia luar Mbak Linda termasuk mainstream. Tapi untuk masyarakat madrasah filsafat, dia negong sekali (lain sendiri, bahasa Sunda-red). Tobucil : Kok bisa tertarik main ke sini, Mbak ? Taunya dari mana ? Mbak Linda : Tau dari Pikiran Rakyat. Kebetulan latar belakang kuliah saya filsafat (di UGM, Yogya). Saya pikir eksplorasi kan nggak cuma waktu kuliah. Setelah kuliah, perlu eksplorasi lebih lanjut supaya wawasannya tidak membeku. Lagi pula topiknya asyik, pengalaman sehari-hari yang dibahas secara radikal. Tobucil : Radikal begimana, tuh, Mbak ? Mbak Linda : Ya … ke mana-mana. Kayak misalnya kemarin, dari masalah keyakinan nyangkut ke masalah cinta dan lain-lain. Tobucil : Hahahaha … eh, iya, Mbak, menurut Mbak, apa yang menarik dari filsafat sampai Mbak pas kuliah ngambil itu ? Mbak Linda : Ya … itu kebetulan aja, sebenernya kepengennya psikologi … Tobucil : Ooo … terus nyesel, nggak, Mbak ? Mbak Linda : Pertamanya terpaksa, tapi lama-lama enggak. Soalnya dengan belajar filsafat, aku ngerasa bisa ngeliat dari berbagai sudut pandang. Tobucil : Berhubungan sama kerjaan Mbak … ? Mbak Linda : Sekarang, sih, aku masih cari-cari kerja. Pengennya, sih, jadi PR (Public Relation) atau marketing di tv lokal. Tobucil : Kenapa? Mbak Linda : Soalnya aku seneng bersosialisasi. Meskipun latar belakangku bukan marketing atau PR, ilmunya bisa dipelajari secara singkat. Yang penting kan cara berpikirnya. Tobucil : Jadi sekarang kegiatan Mbak Linda apa aja ? Mbak Linda : Ikut kursus-kursus agama, ikut madrasah filsafat, dan ikut kursus Bahasa Inggris juga … Tobucil : Wah … kenapa milih kursus agama ? Mbak Linda : Aku lagi nyari pencerahan spiritual. Tobucil : Emang ngerasa nggak cerah, ya, Mbak spiritualitasnya ? Hehehehe …. Mbak Linda : Agak-agak burem … hehehe … wawasanku sedikit, pengetahuan agamaku sedikit, jadi aku kepingin ngeksplor aja supaya bisa merasakan kenikmatan beribadah. Tobucil : Ada hubungannya, nggak, kenikmatan kue dan kenikmatan beribadah ? Mbak Linda : Ya … sama-sama bisa dinikmati … sama-sama … masalah rasalah … Tobucil : Ada hubungannya, nggak, Mbak, sering bawa kue sama spiritualitas ? Mbak Linda : Nggak seringlah, baru dua kali … Tobucil : Ya lumayan kali, Mbak, Mbak Linda kan belum lama ikut madrasah filsafat. Yang lebih lama ikut aja jarang bawa kue … hehehehe … Mbak Linda : Ya itu kan hanya untuk mencairkan suasana, untuk menambah keakraban. Di situ kita berbagi kasih sayang, saling memberi … (tersenyum ramah) Tobucil : Lha … kan yang memberi Embak doang … Mbak Linda : Yang lain juga memberi, kok. Dengan aku membawa kue dan mereka memakan kueku, aku merasa dihargai. Nah, dari situ suasana jadi akrab. Tobucil : Wah … manis sekali … terakhir, Mbak, apa kesan-kesan Mbak selama ikut madrasah filsafat ? Mbak Linda : Asyik, asal jangan disuruh jadi moderator, nanti aku melarikan diri. Aku kan kapasitasnya saat ini cuma untuk mendengarkan. Aku belum ngerasa berkapasitas untuk membagi … Tobucil : Kecuali membagi kue, ya, Mbak …? Hehehehe … Mbak Linda : Yah … mungkin … (tersenyum) Ternyata hari itu Mbak Linda membawa tiga kotak kue lagi. Istilah “memberi lebih baik daripada menerima” tampaknya sangat terjiwai oleh Mbak Linda. Teman-teman madrasah filsafat menjadi kenyang dan bahagia. Dari sudut pandang yang lain, Mbak Linda juga. Berikut ini adalah foto kue-kue Mbak Linda sebelum mewujud jadi kehangatan. Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Namanya Dhilla. Bukan Dhillalatin. Bukan juga Dhillaporkan ke polisi. Namanya Dhilla. Lengkapnya Dhilla Baharudin Nurulhadi. Berdomisili di Yogyakarta. Membuka cabang Klab Rajut di Kinoki. Mencintai broadcasting dan dunia anak-anak. Meski agak pemalu dan bersuara sayup, Dhilla teman mengobrol yang sangat menyenangkan. Berikut ini adalah ngobrol-ngobrol Tobucil dengan Dhilla. Tobucil : Suka ngerajut, ya? Dilla : (mengangguk sambil tersenyum) Tobucil : Apa yang bikin kamu suka ngerajut ? Dilla : Pertamanya gara-gara kondisi. Pas Kinoki pengen buka Kelas Merajut, Mbak Tarlen bilang, “Ini ada Dilla …”. Ya udah, akhirnya saya kursus kilat sama Mbak Upi, trus minggu depannya udah ngajar … Tobucil : Yang bikin Mbak Tarlen nunjuk kamu buat ngajar rajut ? Dilla : Mungkin karena domisili saya di Yogya … Tobucil : (sebetulnya ini pertanyaan pura-pura nggak tau) Terus apa, dong, yang bikin kamu sering ke sini ? Dilla : Kebetulan teman wanita saya kerja di sini (sambil senyam-senyum). Tobucil : Terus, tau Tobucil dari teman wanita kamu, dong, ya … ? Dilla : Saya tau tempat ini karena teman saya cerita macem-macem tentang tempat ini, waktu itu Tobucil masih di KGU (Kyai Gede Utama). Saya jadi tertarik, soalnya tempat ini sepertinya center orang-orang unik, sering berkarya dan karyanya macem-macem … Tobucil : Teman wanita kamu termasuk yang unik juga ? Dilla : Unik, karena itu dia jadi teman wanita saya (senyam-senyum lagi). Tobucil : Uniknya apa ? Dilla : Wah, banyak … bingung … (berpikir sebentar) … dia itu … bener-bener sayang sama saya, membuat saya merasa spesial. Walaupun suka sedikit marah-marah, kemarahannya menunjukkan kalau dia perhatian. Ya … saya seneng aja. Tobucil : (pertanyaan pura-pura nggak tahu lainnya, nih … ) Emang siapa, sih, teman wanita kamu ? Dilla : Yang biasanya jadwal jaganya shift ke dua dari Senin sampai Jumat, namanya Larasati Tika Pratiwi …. Tobucil : Katanya kamu suka hal-hal yang berbau kekanak-kanakan, ya ? Kenapa ? Dilla : Apa, ya … ? Karena murni, tulus, tidak dikotori, dan itu adalah sumber inspirasi. Tobucil : Buat ? Dilla : Banyak. Saya suka dunia broadcasting. Saya suka banget audio, dulu saya sempet ngeband-ngeband. Saya juga suka yang berhubungan sama olah gambar, manual maupun digital. Terus saya juga pernah jadi asisten sutradara waktu bikin video klip. Kepengen bikin film, tapi masih dalam observasi. Itu (semua) kan hubungannya sama perasaan. Materinya dari situ (dunia anak-anak-red); jadikan hidup menyenangkan, jangan banyak berkeluh kesah … Tobucil : Contoh karyanya ? Dilla : Pas bikin viedo klip, konsepnya one take one shoot dengan konsep cerita seal time. Semuanya berjalan bersamaan, tapi nggak boleh salah. Di sana banyak bermainnya, ada muncratan cat, balon-balon sabun … Tobucil : Waaah … kedengerannya menyenangkan sekali, ya … sekarang soal anak-anak, nih, ya, Dil … kalo disuruh nggambarin anak-anak dengan tiga kata … ? Dilla : main, main, dan main. Tobucil : Itu empat. Dilla : (sambil tersenyum khas Dilla) Ya udah kalau gitu, bermain dan bermain. Tobucil : Kalau disuruh nggambarin anak-anak dengan buah, menurut kamu anak-anak mirip buah apa ? Dilla : Mmm … anggur kayaknya … Tobucil : Kenapa ? Karena mereka kalau dicekek jadi ungu, ya ? Dilla : (tersenyum) anak-anak itu jamak, anggur kan satu kesatuan yang banyak rasanya. Ada yang manis, ada yang kecut. Banyakan manisnya, dan yang kecutnya pun nggak ngeganggu. Tobucil : Hehehehe … lucu analoginya … kalau digambarin sama lagu, menurut kamu anak-anak kayak jenis lagu apa ? Dilla : Lagu-lagu punk rock karena punk kan tidak pernah dewasa. Walau udah tua, (jiwanya) tetep aja muda. Isinya juga macem-macem; politik, hewan, cinta, jenisnya pun luas. Tobucil : Kalau Tobucil, ada hubungannya nggak sama anak-anak ? Dilla : (berpikir sambil melihat-lihat sekeliling Tobucil) Benang-benangnya warna-warni. Dekornya, meskipun hijau, banyak pemanis-pemanisnya. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di sini. Ada rajut, origami, warna-warnilah di sini. Kayaknya tiap ke sini ada ajakan, “Yok … bikin apa, yok … “ Selalu ada keinginan untuk mengeksplor dan membuat sesuatu yang kita suka. Nggak komersil. Kalau kata NOFX mah, “We do it for the ‘caused”. Tobucil : Wueissss … Sementara kami berwawancara, Mbak Elin datang. “Kalian, kok bisik-bisik, sih ? Curhat, ya?” tuduhnya. “Enggak, dia suaranya emang begitu,” sahut Tobuciler. “Iya, Dhil, kamu, kok, suaranya pelan banget, sih?” tanya Tobuciler kemudian. Sambil tersenyum dan terus merajut, Dhilla menjawab, “Sama kayak nanya ‘macan, kamu, kok loreng ?’ Ya emang begini, Mbak …” Namanya Dhilla. Bukan Dhillalatin. Bukan juga Dhillaporkan ke polisi. Namanya Dhilla. Lengkapnya Dhillakukan dengan senang hati. Tobuciler percaya jiwa anak-anak dalam dirinya membuat hidupnya selalu raya. Sayup suara Dhilla berbanding terbalik dengan lantang kemerdekaannya. Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Pada suatu sore, seseorang yang tampak familiar melihat-lihat buku di Tobucil. “Siapa, ya … ?” Tobuciler mencoba meningat-ingat. Astagaaaa … Martha Wijayanti Sumantri ! Teman-teman yang sering main ke Tobucil sekitar empat tahunan yang lalu pasti tidak asing dengan perempuan yang satu ini. Apa kabar dia, ya ? Ke mana saja dia selama ini ? Tobucil : Apa kabar ? Martha : Baik. Tobucil : Kamu dari mana aja, sih? Martha : Baru selesai sekolah dan sedang melakukan retrospeksi. Tobucil : Emang kuliah apa dan di mana ? Martha : Arts and Cultural Management di Lasalle College of the Arts, Singapur. Tobucil : Wooow … apa yang kamu dapet selama di Singapur ? Martha : Yang gua alamin … orang-orangnya patuh … patuh yang mengerikan; senang diatur tapi tidak suka bertanya. Saya baik-baik saja sama mereka tapi suka kesel juga karena mereka nggak kritis. Terus, Singapur suka jadi tempat perhentian banyak budaya. Saya juga sempet kerja di Asian Civilitation Museum. Cara kerjanya beda. Tobucil : Bedanya ? Martha : Mereka tegas dalem kerjaan. Kalau A, ya A. Straight to the point, gitu … Tobucil : Ooo … begitu … ngomong-ngomong, kamu udah berapa lama , sih, di Bandung ? Martha : Tiga-empat hari. Sekarang lagi meresapi kota ini kembali, abis itu I’ll go where my feet will go … Tobucil : Rencananya you’re feet will go ke mana ? Martha : Pengennya, sih, jalan-jalan, mungkin travelling ke South Asia, Kamboja, mumpung masih pake Student Pass, bebas fiskal, jadi dimanfaatkan. Tobucil : Statusnya masih student ? Martha : Masih, sampai pengumuman kelulusan nanti. Tobucil : Kangen, nggak, sih, sama Tobucil ? Martha : Mmm … not really … Tobucil : Serius lo ? Martha : Iya. Ada satu masa ketika saya suka nongkrong, dan saya sudah melewati masa itu. Sekarang gua ada di masa seneng sendiri kali, ya, satu setengah taun di Singapur membuat saya jadi sangat memilih-milih kegiatan … Tobucil : Kalau nggak kangen, kenapa main ke sini, dong ? Martha : Karena hari ini, saya memang jalan-jalan kaki ke mana-mana. Barusan saya dari Vertex (terletak di jalan Lombok, dekat dengan Tobucil-red). Tobucil : Ada, nggak, sih, yang kamu kenang dari Tobucil ? Martha : Mm … Klab Nulis, kali, ya, Klab Nulis yang jaman baheula. Menurut gua itu tempat yang menyenangkan, bisa berbagi tanpa target dan tekanan … Tobucil : Maksudnya ? Martha : Iya. Di Klab Nulis waktu itu kita hanya saling berbagi, saling mendengarkan. Dulu itu tempat yang akrab, intim, menyenangkan, rasanya nggak membuang-buang waktu ngelewatin seharian di sana. Tobucil : Kalau Klab Nulis yang sekarang ? Martha : Ya nggak tau, saya kan nggak ngikutin Klab Nulis yang sekarang … Tobucil : Oh iya, hehehe … apa, sih, yang bikin kamu waktu itu mulai nggak ke Tobucil lagi? Martha : Waktu itu gua udah taun-taun terakhir kuliah, jadi pengen konsen ke tugas akhir. Abis itu dapet kesempatan ke luar negeri, ikutan kompetisi, terus setelah itu terbawa arus. Iya, saya terbawa arus. Terbawa arus kadang-kadang menyenangkan …. Tobucil : Kenapa ? Martha : Abis gampang, nggak usah mikir …. Hehehehe … asal kita tau aja ke mana arusnya … Tobucil : Apa yang kamu rasain ketika pulang ke Bandung ? Martha : Hmmm … ingatan saya ada di sini, tapi rumah saya bukan di sini. Rumah saya kecil di sini (sambil meletakkan tangan di dada). Setelah saya tinggal di kota yang mekanis, di sini terasa lebih tenang, nggak terlalu banyak kompetisi … eh … di sini ada WC-nya kan ? Tobucil : Ya adalah … Tobuciler mengantar Martha ke WC. Ketika keluar dari WC, Martha tampak meringis-meringis tidak enak. Ternyata dia diare setelah jajan ayam bakar di warung setempat. Selanjutnya Martha pulang bersama Tobuciler. Tadinya kami berencana berjalan kaki dari Jln. Aceh sampai Jln. Dago, tapi tahu-tahu Martha meringis-ringis lagi. “Mau naik angkot aja ?” tawar Tobuciler. Martha mengangguk setuju. “Makanan di Singapur nggak ada rasanya, tapi kebersihannya terjamin. Kayaknya perut saya udah terbiasa dimanja sama makanan bersihnya Singapur,” curhat Martha. Tampaknya keindonesian jajanan telah menjalar-jalar dalam perut Martha. Mungkin itulah cara dia mengucapkan, “Wilujeng sumping, Martha … wilujeng sumping … “
Sundeauntuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Baru kali ini “Teman Tobucil” menghadirkan sosok perempuan yang lembut dan keibuan. Namanya Mia Agustin. Senin minggu lalu, dia datang menggandeng gadis cilik cantik bernama Kaifa. “Anak kamu?” tanya Tobuciler. “Bukan, ini ponakan aku,” sahut Mia. Tobuciler memperhatikan cara gadis 22 tahun itu memperlakukan Kaifa yang akrab dipanggil Ipeh. Dengan terampil dia menguncirkan rambut Ipeh, membujuknya ketika bad mood , dan menasihati Ipeh supaya menjaga kesantunan. Mia adalah anggota Klab Rajut yang cukup rajin dan progresif. Berikut ini adalah ngobrol-ngobrol Tobuciler dengan Mia featuring Obi, pacar Mia. Tobucil : Kamu dari kapan suka ngerajut ? Mia : Dari SMP. Awalnya diajarin hakken sama sepupu aku. Tobucil : Terus, mulai ikut kursus rajut di Tobucil ? Mia : Waktu masih kuliah. Tadinya aku ikut yang di KGU, baru tau pindah ke sini setelah sms Mba Upi. Tobucil: Kenapa, sih, kamu tertarik sama ngerajut ? Mia : Seneng aja … bikin penasaran. Kalau lagi bosen, bisa untuk ngisi waktu luang. Tobucil : Denger-denger kamu lagi belajar ngerajut pakai tangan kiri, ya ? Emang buat apa, sih? Mia : Pengen bisa aja, biar lebih efektif. Kalau tangan kanan pegel, bisa pakai tangan kiri. Jadi ngerajutnya lebih cepet. Tobucil : Mau nyoba belajar cebok pakai tangan kanan, nggak, biar lebih efektif ? Mia : Ya enggaklah, Embak ! Kan beda … Tobucil : Eh … biar lebih efektif, kalau tangan kiri pegel, ceboknya bisa pakai tangan kanan … Mia : Ya enggak, Mbak, tangan kanan kan untuk makan … Tobucil : Hehehehe … iya, iya. Terus terus … kamu ngerajut pakai tangan kiri udah bisa sampai mana? Mia : Baru bisa tusuk atas aja. Jadi yang tusuk atas pakai tangan kiri, tusuk bawah pakai tangan kanan. Jadinya lebih cepet dan tangan kanannya nggak terlalu pegel … Tobucil : Waktu itu aku ngeliat dasi rajutan kamu. Kamu emang suka ngerajut dasi, ya ? Mia : Awalnya gara-gara dia … (sambil menunjuk pria jangkung yang sedang bercanda dengan Ipeh) Tobucil : Dia ? Dia itu siapa ? Mia : Obi. Tobucil : Emang Obi itu siapa ? Mia : (dengan wajah memerah) pacar aku, pacar aku …. Tobucil : Hehehehe … emang “dia” kenapa, Mi ? Apa hubungannya dasi rajutan kamu sama “dia” ? Mia : Kebetulan dia kuliahnya pakai dasi di NHI, jadi sama Mia dibikinin dasi. Tobucil : Dasinya udah pernah dipake? Obi : (bersemangat) Udah. Orang-orang pada nanya belinya di mana. Pada minta, tapi nggak boleh. Saya bilang itu pesenan spesial, bikinan “dia” (melirik Mia dengan tatapan penuh cinta). Dosen saya aja sampai minta diwariskan dasi saya. Ayah juga minta, tapi … ya jangan … Tobucil : Hahaha … Eh, Mi, kamu sadar, nggak kalau kamu keibuan sekali ? Mia : Mm … iya, mungkin … orang-orang bilang juga begitu, tapi nggak juga … mungkin karena sering ketemu anak kecil aja kali, ya … Tobucil : Hubungan anak-anak sama ngerajut buat kamu? Mia : Ya … kalau Mia bisa ngerajut, Mia bisa bikin apa-apa sendiri buat anak Mia pas Mia punya anak, nggak usah beli. Tobucil : Siap, nggak jadi ibu-ibu dalam waktu dekat ini ? Mia : Belum, belum berencana jadi ibu dalam waktu dekat. Tobucil : Kalau kamu, Bi, siap, nggak jadi bapak ? Obi : (dengan mantap) Kalau memungkinkan, kenapa enggak ? Hehehe … Tobucil : Wah …kalian nggak kompak, nih … Mia : Abis kan dia juga mau ke Aussie. Kerja. Tobucil : Ooo … baiklah, bailah. Tapi kita berandai-andai aja, nih, ya, misalnya suatu saat jadi ibu dan istri, kamu kepingin jadi ibu dan istri yang kayak gimana? Mia : Ih, Embak, kok pertanyaannya jadi gitu, sih ? Tadi kan nanyanya tentang ngerajut … Tobucil : Ya nggak pa-pa kan … ayo ayo … harus dijawab … Mia : Aku mau jadi ibu yang selalu ada buat anak-anakku. Nggak kerja di luar, kepinginnya buka butik yang ada kafenya, jadi bisa sambil ngasuh anak-anak … Tobucil : Wow, berdedikasi sekali. Nah, kalau jadi istri-jadi istri …? (sambil menaik-naikkan alis) Mia : Iiih,Embak kok nanyanya jadi gitu ? Ganti pertanyaan, ah … Obi : Nggak bisa … nanti kalau ganti pertanyaan, urutan pertanyaannya loncat, jadinya nggak bagus … Mia : (dengan wajah memerah) Jadi istri yang … kalau suaminya diem di rumah … harus masak … Tobucil : Lah … kasian amat … suami kamu pengen ngajak ngobrol, kamunya malah masak … Mia : Maksudnya … kalau suaminya di rumah, harus masak biar suaminya nggak jajan keluar. Tobucil : Terus-terus, kamu mau jadi istri yang gimana lagi ? Obi tampak menyimak bagian ini dengan penuh minat Mia : Ya … bisa membagi urusan di luar dan di rumah. Masa’ kalau suaminya lagi di rumah Mia shopping ato apa ? Kalau suami lagi di luar, mungkin Mia keluar juga, tapi minta izin dulu sama suami … Obi : Mbak, Mbak (sambil menoel Tobuciler), kayaknya ada yang lupa ditanyain. Dianya mau nggak dijadiin istri ? Tobucil : Nah, tuh, ada pesan pertanyaan dari sponsor … Mia : (wajah kembali memerah) Apaan, sih ? Udah, ah, pulang, yuk … Obi : Ayo, dong, dijawab dulu … Mia : Ipeh udah laper, tuh … yuk … Tobucil : Mi, kalau belum dijawab nggak boleh pulang … Mia : Semua wanita normal pasti kepingin jadi ibu dan istri … Tobucil : Kalau jadi istri dia ? Mia : (setelah mencoba menghindar dengan segala cara) Kalau nggak mau, ngapain juga saya sama dia ? Obi langsung sumringah. “Sebelumnya kamu udah pernah nanya ini, belum, sama dia ?” tanya Tobuciler. “Udah sering, tapi jawabannya selalu berputar-putar,” sahut Obi bungah. Mumpung masih hangat, Tobuciler segera mengabadikan wajah bahagia Obi dan menghadirkannya juga di halaman ini. Moga-moga kebahagiaan itu bisa jadi milik kamu juga ^_^ Sundeauntuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Namanya Argus Firmansah. Sekilas, Mas yang satu ini tampak The Beatles sekali; potongan rambut khas pemuda zaman itu dan kacamata bulat ala John Lennon. Tobuciler pun segera menanggapnya untuk rubrik “Teman Tobucil” minggu ini. Mas Argus adalah anggota AJI. Sore itu, sambil menonton Mas Argus mengupload blog di ruang AJI, wawancara dilakukan. Tobucil : Mas wartawan, ya ? Mas Argus : Iya, tapi statusnya masih kontributor. Tobucil : Di mana aja? Mas Argus : Di Harian Jurnal Nasional Jakarta, majalah Arti Jakarta … Tobucil : Jakarta? Terus, kok, di sini ? Mas Argus : Ya kan kontributor Bandung … Tobucil : Ooo … hehehehe … Mas tau, nggak, Mas itu rambutnya kayak Paul McCartney, kacamatanya kayak John Lennon. Emang seneng The Beatles, ya ? Mas Argus : Iya. Dulu punya band waktu SMA, maininnya lagu-lagu The Beatles. Saya suka The Beatles karena konon mereka pendobrak. Mereka membawa perdamaian lewat musik mereka. Syair-syair lagu mereka tidak sembarangan dan sangat beragam. Tentang apapun ada. Tobucil : Terus lagu The Beatles yang Mas paling suka ? Mas Argus : We Can Work It Out. Lagu itu mengandung motivasi yang meningkatkan semangat kebersamaan. Di sana ada tema cinta, persahabatan, pertemanan, apapun hubungan itu kalau dikerjakan bareng-bareng pasti bisa diselesaikan. Tobucil : Wah … kayaknya Mas Argus orangnya paguyuban, deh … Mas Argus : Paguyuban ? Sebetulnya saya hanya tipe orang yang di manapun saya berusaha bisa masuk. Dengan begitu saya jadi banyak teman, banyak saudara juga. Berkomunitas itu baik, dengan adanya berserikat dan berkumpul ada banyak hal yang bisa dibuat. Tobucil : Hiyaaaa … kayak UUD ’45 … Mas Argus : Iya, seperti Penataran P4 itu, ya ? Sebetulnya Penataran P4 itu baik untuk penanaman kesadaran untuk menjadi bangsa yang besar. Tobucil : Kalau penanaman harusnya di kebun, ya, Mas, kalau di ruangan gitu kan nggak ada tanahnya … Mas Argus : (tanpa menanggapi Tobuciler) Bangsa kita itu kadang sifatnya masih kedaerahan. Coba, waktu kamu bertemu dengan orang lain, kadang pertanyaannya kan “dari mana?” padahal itu bukan sesuatu yang penting juga. Sifat kedaerahan itu yang banyak menimbulkan korupsi. Tobucil : Kok ? Mas Argus : Orang korupsi karena nasionalismenya hanya di mulut. Mereka korupsi untuk kepentingan kelompoknya saja. Rakyat mereka hanya anggota konstituennya, anggota partai politiknya. Bagi mereka, rakyat Indonesia bukan keseluruhan rakyat yang ada di Indonesia, tapi rakyat mereka yang ada di Indonesia. Megawati pernah membuat upacara sendiri dan terang-terangan bilang, ‘saya punya rakyat sendiri’. Itu adalah sebuah indikasi. Tobucil : Ooo ... Mas Argus : Kamu tahu, nggak, kalau bahaya laten perpecahan Indonesia adalah disintergrasi. Sekarang ini banyak sekali daerah yang ingin melepaskan diri dari NKRI. Tobucil : (mengangguk-angguk) Mas Argus : Itulah pentingnya nasionalisme. Bapak saya Cirebon Keraton, Ibu saya Soreang, tapi saya tidak fasih berbahasa Sunda. Sejak kecil saya malah lebih senang bermain dengan teman-teman dari luar Jawa dan selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Selain sekedar bergaul, kita harus sadar untuk punya self defense yaitu nasionalisme itu sendiri. Tobucil : Jadi udah nasionalis dari anak-anak, ya, Mas ? Mas Argus : Sebetulnya waktu kecil saya nggak sadar, tapi mungkin karena di keluarga saya banyak yang militer. Itu merupakan reminder supaya kita punya kesadaran untuk mempunyai rasa cinta terhadap tanah air. Tobucil : Apa, Mas ? Keluarganya banyak yang dari Blitar? Mas Argus : (dengan suara lebih jelas dan tegas) MILITER. Tobucil : (sambil mencoret-coret catatan) Oh … hehehehe … maaf …. Mas Argus : Saya bicara begini karena ingat Sukarno. Tobucil : Makanya, Mas, ingetnya sama Mudahno aja, jangan yang sukar-sukar, pasti obrolannya jadi lebih ringan, deh … hehehehe …..jadi Mas seneng sama Sukarno, nih ? Mas Argus : Apanya? Kalau kepribadiannya, sih, enggak, tapi kalau soal perannya untuk sejarah iya. Sejak remaja dia sudah punya obsesi bagaimana menjadi pemimpin. Tahun 2001 saya masuk LSM Bandung Jurnal. Di sana kami membuat program kegiatan yang bercirikan Indonesia. Programnya diadakan di Gedung Indonesia Menggugat, Lanrad. Di tempat itu kan Sukarno membacakan pembelaan dirinya untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari pemerintahan kolonial … ingat, nih, bangsa, ya, bukan negara …. Tobucil : Menurut Mas sendiri, “bangsa” dan “negara” bedanya apa ? Mas Argus : Bangsa lebih ke ethnic community, lebih luas, tidak terbatas teritorial. Sementara negara kan lebih jelas batas teritorialnya; berapa lintang utara, berapa lintang selatan … Tobucil : (mengangguk-angguk sambil mencatat) Eh, Mas, mumpung wawancaranya modelnya udah begini, nih, menurut Mas, Pancasila itu gimana? Kan tanggal 1 Juni hari lahirnya Pancasila … Mas Argus : (agak sinis) Pancasila sekarang sudah banyak dijual untuk judul proyek ! Pesan terakhir dari saya, nasionalisme harus dipertanyakan kembali. Mas Argus menerima telpon. Setelah itu dia memakai jaketnya dan bersiap-siap meninggalkan Jln. Aceh no. 56. Entah sadar entah tidak, dia juga meninggalkan kepusingan di kepala Tobuciler; pasca-wawancara, Tobuciler merasa seperti baru selesai menonton program khusus Sumpah Pemuda atau Kebangkitan Nasional. Sepeninggal Mas Argus, Tobuciler mencoba merenungkan keseluruhan wawancara. Tahu-tahu Tobuciler malah sadar sesuatu yang membuat Tobuciler nyengir-nyengir sendiri. Tampilan Mas Argus mirip The Beatles dan dia lumayan mengagumi Sukarno. Padahal dulu, Sukarno pernah mencekal Koes Plus karena dianggap mirip The Beatles. Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
Wajah, suara, sampai motor Harish Banser yang aktif di Klab Klasik ini, mengingatkan Tobuciler pada aktor-aktor era ’70an. Awalnya, blasteran Tionghoa-Arab ini ragu-ragu diwawancara untuk “Teman Tobucil”. Namun, setelah mendengar adanya peluang “mendapat pacar” karena hadir di rubrik ini, mahasiswa Unikom angkatan 2004 tersebut langsung setuju. Berikut adalah wawancara Tobucil dengan Harish. Tobucil : Rish, elu sadar, nggak, kalo elu keliatan kayak aktor-aktor taun ’70 an? Harish : Awalnya Arish nggak sadar, tapi pas ngeliat foto papa Arish, Arish baru sadar. Tobucil : Kok bisa? Harish : Soalnya papa Arish kan mudanya taun 70an. Arish mirip banget sama papa Arish, nggak ada yang dibuang … Tobucil : Lah … artinya semua anak yang mirip orangtuanya tampak lebih tua satu era, dong ? Harish : Hehehehe … Tobucil : Hmmm. Apa yang lo inget dari film taun ’70 an? Harish : Kameranya masih ngeblur, ceweknya banyak yang sok seksi padahal enggak. Rambutnya pada keriting dan banyak bulu keteknya … Arish banget kayaknya, ya …? Tobucil : Hehehehe … suka, nggak ? Harish : Ya enggaklah ! Tobucil : Kenapa ? Harish : Mmmm (tampak bingung) … mungkin kalau cewek itu jadi superstar terus kekuatannya di bulu ketek dan bulu keteknya dari emas, Arish suka. Tapi kalo bulu keteknya item gitu, lain kali ajah ! Tobucil : Berarti kalau lain kali mau, dong ? Harish : Ya … kalau bulunya emas iya. Tobucil : Kok mau? Harish : Kalau bulunya emas kan bisa dijual. Jadi kalau ditanya orang, “Rish istri lo bulu keteknya lebat …” Arish bisa jawab, “Nggak apa-apa … yang penting emas …” . Yah … jangan soal bulu ketek terus, dong, Arish jadi nggak nafsu makan … Tobucil : Biarin … eh … elu padahal kan ‘miara’ juga … Harish : Miara apa? Bulu ketek? Iya, sih … kok mulai nggak enak, ya … ? Hehehehe … Tobucil : Wah, nggak adil lo sendiri miara bulu ketek tapi nggak suka cewek berbulu ketek … Harish : Paling nggak Arish nggak suka pakai tank top, karena itu aja kayaknya … Tobucil : Misalnya, ya, Rish, misalnya, ada cewek cantiiiiik … banget. Dia juga nggak pernah pakai tank top. Bajunya tangan panjang mulu. Tapi ternyata dia berbulu ketek. Lu gimana? Harish : Oh, itu pernah kejadian. Terus Arish ilfeel. Tobucil : Eh, iya, tadi pertanyaan gue kan belom dijawab, Rish, soal kenapa lo nggak suka banget sama bulu ketek. Bukan bulu ketek yang emas, ya … Harish : Apa, ya? Abis keriting, ngumpul, panjang, dan letaknya nggak strategis. Tobucil : Kalau tumbuhnya di gigi menurut lo strategis, nggak ? Harish : Hahahaha … di gigi. Kepikiran aja. Enggak, ah. Kalau liat yang kayak gitu, mending Arish minta petrus (penembak misterius) ngebunuhin satu-satu. Tobucil : Terus menurut lo tempat yang strategis di mana, dong? Harish : Rambut, kumis … Tobucil : Wah … suka cewek berkumis, Rish …? Harish : Enggak juga. Soalnya Arish inget guru agama Arish yang berkumis. Kumisnya tebel banget, tinggal dikasih tulisan “welcome” udah kayak keset. Arish waktu SMA di drop out empat kali, dan di tiap sekolah itu guru agamanya selalu berkumis. Tobucil : Hiyaaa … bisa gitu. Pertanyaan terakhir, nih, Rish. Apa pendapat lo tentang Tobucil ? Harish : Tobucil yang sekarang, ya … kopinya enak, tempatnya adem, bukunya komplit … bukan komplit, sih, cuma buku yang Arish mau semua ada di sini, biarpun Arish baru beli buku sekali. Tapi sayang … Mandanya udah nggak ada …. Sekitar pukul tujuh malam, Harish pamit pulang. “Motor Arish nggak bisa langsung distarter,” katanya. Terus gimana, dong ? Ternyata Harish pun punya cara yang antik. Dia menuntun motor sampai keluar Tobucil; berjalan, setengah lari, berlari agak cepat dan …. brrrrm … ketika mesin motor menyala, Harish melompat naik. Soundtrack salah satu film Roy Marten di tahun ‘70an seperti sayup mengiringi, merepih alam di malam berselubung kabut kelam. Wajah pun meredup tercermin haus cahaya meremang gulana ….
Merepih Alam – Soundtrack Badai Pasti Berlalu Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
“Ikut nonton Uber doooong … boleh nggak jendela rumah kamu dibuka?” pinta Bumi Arie Dandaraga kepada Reni begitu tiba di Tobucil. “Entar, ya …,” sahut Reni yang sedang makan siang bersama Mbak Elin. Bumi mengangguk mengerti. Sambil menunggu, dia duduk di ruang belakang Tobucil sambil minum Teh Botol. Akhirnya more
Frino Baricianur Barus saat ini mewartawan di beritaseni.com. Pria Singkawang yang suka menembangkan lagu-lagu Sunda ini ternyata mempunyai keterikatan dengan batu. Dalam hal apa? Simak interview berikut ini … ;) more
Seorang pria berjanggut panjang yang juga punya nama sangaaaat … panjang duduk-duduk di ruang belakang Tobucil. Dia dan Pak Hardi, temannya, sedang melakukan pekerjaan yang juga terlalu panjang dan rumit untuk dijelaskan. Tobuciler tidak mengerti. Jadi, more
Pada suatu hari Minggu, Yusnita Hawilaruth Simanjuntak, yang akrab dipanggil Yuchan, tampil dengan rok terusan bermotif bunga-bunga. Ada apa gerangan? Karena gerakan go green sedang populerkah? more
Percayalah. Selama lima edisi “teman Tobucil”, interview ini adalah yang paling serius. Tidak bisa jadi lucu meskipun Tobuciler sudah berusaha melucu-lucukannya. more
Agus Rakasiwi adalah ketua AJI Bandung. Profesi kharismatik ini ternyata membuatnya punya banyak penggemar. Menurut gosip yang beredar di Tobucil, salah satunya bahkan pernah mengirimi Mas Agus tanaman mahal. Siapa pengirim tanaman itu? Bagaimana kelanjutan hubungan Mas Agus dengan si pengirim tanaman tersebut?Tobucil : Emang siapa, sih, yang ngasih taneman? Agus : Seorang cewe' .... Tobucil : Siapakah ...? Agus : Iya, jadi ... hihihihi .... jadi gua mungkin emang mempesona cewe itu ... hihihihi ... Tobucil : Emang hubungan Mas Agus sama cewe itu gimana? Agus : Pernah nonton Closer ? Tobucil : Belom ... Agus : Ya dia ... hihihihi .... pemudi idaman .... hihihihi .... bukan, deh, dia Tanti (maksudnya Tante-red) idaman ...hihihihi .... enggak, ding, kita kan seumuran .... Tobucil : (????) Katanya belom sehari tanemannya udah ilang dicuri, ya? Agus : Iya. Tapi udah dikirimin bunga lagi. Kan Tobucil harus lebih hijau ... hihihi ... taneman itu buat Tobucil, kok, waktu itu aja banyak yang suka nyiramin .... hihihihi .... Tobucil : Sekarang tanemannya masih ada? Agus : Ada. Tobucil : Mana? Agus : Di rumah saya. Tobucil : Lah ... katanya buat Tobucil .... Agus : Enggak, buat saya, ding .... hihihihi ... buat saya, buat saya. Itu karena saya mempesona sekali ... hihihihi .... Tobucil : Mas, gosipnya baru pulang dari Bali, ya? Katanya pulang-pulang Mas Agus jadi gembira banget. Emang ke Bali sama siapa, sih? Agus : (ehm) Itu ... itu agak berat emang persoalannya, agak berat ... hehehehehe .... sampai ... Laras (memanggil penjaga Tobucil yang sedang bertugas saat itu) ada rokok ? Atau kopi, kopi ... satu, aja .... hihihihihi .... Tobucil : Mas emang biasa ketawa-ketawa gini, ya? Agus : Emang gua gila ... hiihihii .... gua panas dingin ditanya-tanya gini .... hihihihi ... jadi nggak enak bodi .... Tobucil : Jadi, Mas, siapa perempuan yang beruntung itu? Agus : Biasanya yang ngirim bunga itu orang yang abis gua wawancara. Tapi, salah, cewe itu nggak beruntung. Dia pasti belum makan wortel .... hihihihi .... jadi matanya belom terbuka ... Tobucil : Lah ... tadi katanya Mas Agus mempesona, sekarang jadi nggak PD. Mana yang bener, nih ? Agus: Nggak ada yang bisa lo percaya. The truth is outthere ... hihihihi .... Telpon Mas Agus berbunyi. Mas Agus mengangkatnya. Setelah berbicara sebentar, dia menutup telpon sambil pamit, "Gua pergi dulu, ya, entar gua balik lagi, kok, mau ke dokter ..."Dokter ?!!! Dokter apa, nih?!! Jangan-jangan ketawa-ketawa tak tentu Mas Agus tadi karena ....(Sundea) 
Sophan Adjie yang akrab disapa Ophan tampak panik. Sore itu semua ATM bank (niiiit, sensor) tewas bersama-sama. “Gua jadi nggak bisa bayar kopi,” katanya sambil menunjuk cangkir kopi kosong di meja Tobucil. Akhirnya, dengan terpaksa dia menghampiri Mas Andre yang hari itu jaga di kasir Tobucil, “Maaf, ya … ATM-nya mati, jadi saya nggak bisa ngambil uang. Saya … ng … boleh ngebon dulu, nggak ?” tanya Ophan malu. “Oh, kalo gitu dicatet dulu aja …” sahut Mas Andre cukup ramah. Maka pengutangan terjadi. Pun mungkin pertemanan yang lebih akrab antara Ophan dan Tobucil. Tobucil : Pertama kali, ya, ngutang di Tobucil? Ophan : Pertama kali dan jangan pernah lagi. Tobucil : Jadi ngerasa bertambah akrab sama Tobucil, nggak, setelah ngutang? Ophan : Bertambah malu yang pasti … tau, nggak, tadinya abis bayar kopi gua mau ke BIP, makan bakso. Tiap hari gua makan bakso, lho, kalo sehari belom makan bakso, gue ngerasa belom makan. Gua suka banget bakso, apalagi kalo pake ceker. Eh nggak taunya ATM-nya… oh, iya, catet, ya gue ngutang karena ATM-nya mati … Tobucil : Beres, beres …eh … ngomong-ngomong, gimana, sih, lo bisa temenan sama Tobucil? Ophan : Gua diajak temenan sama Tobucil. Masa’ ada yang ngajak temenan gua nggak mau? Tobucil : Gimana, tuh, ngajaknya …? Ophan : Gua ditawarin ngurus Klab sama Wiku (koordintaor Klab Tobucil-red). Trus gua bilang, ‘gua di klab seni pertunjukkan aja,ya …’ abis itu gua ngobrol panjang lebar sama Wiku, akhirnya mutusin untuk memproklamasikan ‘Langit Inspirasi’, deh … Tobucil : Lo emang bergerak di bidang seni pertunjukkan, ya? Ophan : Biasanya saya emang nulis dan maen teater. Dua hal itu. Dua-duanya berjalan beriringan seperti tangan dan kaki. Tapi … belakangan saya nggak tau mau main teater ato enggak, soalnya income-nya nggak bisa dijadiin pegangan… Tobucil : Jadi butuh income buat bayar utang kopi di sini, ya ? Hehehehe … Ophan : Yah … 0,1 persennya, deh … Tobucil : Berencana tambah akrab, nggak, sama Tobucil? Ophan : (melirik pintu Tobucil) Yang biasanya tidur di sini siapa? Tobucil : Oh … jadi kalo udah akrab sama Tobucil, lo berencana tidur di Tobucil? Ophan : Hehehehe … bisa, bisa. (jeda). Enggak, waktu itu pas gua dateng pagi-pagi, ada anak Tobucil yang ngebukain pintu dari dalem. Dia masuknya dari mana, ya? Tobucil : Lo nggak tau, ya kalo dia bisa tembus pintu, nggak usah pake kunci? Sadar obrolan semakin ngelantur, Tobuciler kembali ke topik. Tobucil : Ophan, kalo lo udah akrab sama Tobucil, lo punya rencana apa? Ophan : Pengen ngededikasiin diri aja. Kalo entar event-event gua disponsorin, gua mau me-re-proklamasi, menyatakan kalau sekarang ada sahabat baru, yaitu Langit Inspirasi. Itu merupakan bentuk terima kasih saya kepada teman yang sudah memberikan tempat singgah … Sambil wawancara, sesekali Ophan sibuk dengan telpon genggamnya, mencoba menghubungi adiknya yang bekerja di bank yang bersangkutan dengan keberhutangan Ophan. Tapi Sang Adik masih sibuk dan belum bisa membantu. Tahu-tahu …. nininininiininit …. bukan hanya uang yang habis, juga baterai handphone. Ophan menelan ludah.  
(Sundea)
Adi Marsiela adalah satu dari sedikit laki-laki yang merajut di Tobucil. Di tengah kesibukannya sebagai kuli tinta di harian Suara Pembaruan , Adi kadang mampir ke Tobucil untuk menuntaskan rajutannya yang bernuansa putih dan ungu. “Emang lagi bikin apaan, sih?” tanya Tobuciler. more
| |