tobucil's posts with tag: tobucil minggu ini
-Tobucil, Kamis 26 Juni 2008- Hari itu Tobucil penuh sesak. Berkarung-karung benang yang bertumpuk di ruang belakang, menuntut segera diurus. Segenap kru pun sibuk menggulung dan mengabsen benang.
Di tengah-tengah kekusutan itu, seorang Mbak cantik datang ke Tobucil. “Saya mau ambil buku,” ujarnya. “Oh, pemenang kuis Jazz and Book kayaknya, tuh, udah disiapin,” ujar Mbak Elin sambil masih sibuk dengan benang. Tanpa banyak bertanya lagi, Mas Andre mengambil paket hadiah “Jazz and Book”. “KTP, Mbak,” tagih Mas Andre sebelum menyerahkan paket tersebut. “Oh … di sini beli buku pake KTP, ya …?” tanggap Mbak itu agak heran. “Iya, buat laporan ke kepollisian,” sahut Mas Andre asal. Meski tidak mengerti, Mbak itu menyerahkan KTP-nya. Dia tampak semakin bingung ketika Mas Andre tahu-tahu memfotokopinya. “Ini hadiahnya. Dapet apa, sih, Mbak, liat, ya…,” kata Mas Andre sambil mengintip paket hadiah “Jazz and Book”. “Oh … dapet hadiah juga, ya …?” tanya Mbak itu lagi. “Lho … kamu … bukan Jazz and Book ? Lumbini, ya?” Mas Andre tiba-tiba sadar. “Iya. Tadi saya bilang kan…,” ujar Mbak itu. Hiyaaaa ….
Seisi Tobucil tertawa lepas. Ternyata, Mbak yang bernama Yulistina Sandji itu datang untuk mengambil novel Lumbini. Inisiatif berlebihan Kru Tobucil menimbulkan kekeritingan pemahaman, namun me- rebonding kekusutan suasana. Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Rabu 25 Juni 2008- Madrasah filsafat
Caught up in circles …* Di tengah-tengah madrasah filsafat, hadir Mas Donny Anggoro. Penulis novel Chimera ini datang untuk memperkenalkan sains fiksinya itu. Karena madrasah filsafat dijadwalkan bertema “waktu”, Mas Donny diminta berbicara dengan pijakan tema tersebut. “Buat Mas, waktu itu apa ?” tanya Mas Ami. “Kita kayak dikutuk sama waktu, harus menjalani waktu. Kita kadang terkungkung oleh waktu dengan mengulang kesalahan yang sama dengan kesalahan di masa lalu. Saya menulis novel ini berdasarkan harapan-harapan yang tidak tercapai hari ini. Saya membayangkan ada sesuatu baru yang diciptakan tetapi berbahaya. Masalahnya banyak kasus yang tidak terselesaikan karena kita sangat cepat melupakan,” jawab Mas Donny. Hnah, berdasarkan pernyataan itu, pemaparan Mas Donny tentang novelnya dibuka. … secrets stolen from deep inside* Di dalam Chimera dikisahkan, di tahun 2020, pembungkaman terhadap orang-orang kritis masih terus terjadi. Caranya lebih halus. Memori mereka dikacaukan dan sebuah kepribadian baru diciptakan dalam kesadaran. Chimera. Begitu disebutnya. Menurut mitologi, Chimera sendiri adalah makhluk berkepala singa, berbadan kambing, dan berekor ular. “Di dalam bahasa Indonesia, ini disebut gagasan yang tak mungkin,” ujar Mas Donny. Dari sana, arah pembicaraan bermuncratan ke mana-mana. … confusion is nothing new* Menurut Mas Dauz, sains fiksi di Indonesia tidak terlalu berkembang. Masalahnya, banyak cerita sains-fiksi yang sesungguhnya tidak dibangun logika sains-nya. “Saya sepakat dengan Dauz, contohnya Supernova. Itu tidak (bisa) digolongkan sebagai sains fiksi karena banyak logika fisika yang tidak tepat,” timpal Mas Iman. Bumi tidak sependapat. Dia terbiasa beranggapan, cerita-cerita berlatar antah berantah dengan alien-alien, termasuk sains fiksi. “Tapi alien di cerita Mas Donny adalah diri kita sendiri, karena kita nggak tahu siapa kita,” tanggap Mas Ami. Dari sana, pembicaraan sempat berbelok ke arah eksistensi diri. Berkenaan dengan cerita-cerita di Indonesia yang kadang kurang kuat risetnya, Mas Al-Fatri yang berlatar desain produk sekilas membahas ketekunan. “Di luar negeri, orang-orang sangat detail. Pas mau bikin film Titanic, piringnya sampai harus dibikin di pabrik yang sama dengan piring di Titanic yang dulu. Kalau di sini, saya mesen tutup aquarium aja nggak presisi.” If you lost, you can look and you will find me … * Setelah berkelana ke sana ke mari, akhirnya pembicaraan kembali tergiring kepada konteks. Mas Zaenal mencoba merangkumkan, “Waktu = unconscious definition. Waktu=keberlanjutan. Yang harus digarisbawahi adalah keberlanjutan. Wright Bersaudara berimajinasi tentang terbang. Awalnya (mereka) dianggap bodoh, tapi sekarang (terbang) jadi sesuatu yang ilmiah. Dengan mata rantai waktu, imajinasi akan jadi sesuatu yang ilmiah …” Sementara itu, waktu bergerak terus. Sesungguhnya dia adalah chimera itu sendiri. Dialah gagasan yang tak mungkin ditangkap. Karena waktu terus bergerak sesudah waktu. Karena waktu terus bergerak mengejar waktu; Time after time … Time after time … Time after time … * Sundea *) diambil dari teks lagu Time After Time Tuck and Patti. untuk melihat artikel dengan gambar, klik di sini
-Tobucil, Senin 16 Juni 2008- “Kakaaaak ... sini, deh …liat semutnyaaaaa ….,” seru Reni.
Begitu Tobuciler tiba di luar, Reni menunjuk origami yang tergantung di gerbang Tobucil. Sekumpulan semut tampak merayap-rayap panik di permukaannya.
Jadi begini ceritanya. Ketika sedang bermain voli di pekarangan, tak sengaja bola Reni menubruk origami penghias gerbang. Tiba-tiba saja semut-semut itu menghambur keluar dari sela-sela lipatan origami. Semakin banyak dan semakin banyak dan lama-lama menjadi banyak sekali. Ternyata, diam-diam semut-semut itu membangun perkampungan di dalam origami. Entah sejak kapan. Jika dilihat dari jumlah penduduknya, kelihatannya, sih, sudah cukup lama. Menurut Melisa dalam lagu Semut-semut Kecil, semut tinggal di dalam tanah. Tapi itu kan semut-semut di awal tahun 90-an. Lebih dari satu dekade cukup untuk melakukan perjalanan menuju “taraf hidup yang lebih tinggi”. Tobuciler jadi bertanya-tanya. Setelah kemapanan domisilinya diganggu, kira-kira semut-semut ini akan ke mana, ya … ? Tetap di sana, atau kembali berperjalanan ? Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Rabu 18 Juni 2008- Begitu tiba di Tobucil hari itu, Tobuciler mendapati Reni asyik menggambar di meja beranda. Dengan segera, Tobuciler mengambil kamera. “Mau ngapain, Kak … ?” “Motret kamu.” “Kalau mau motret, motret gambarnya aja, jangan aku.” “Gambarnya juga udah dipotret, kok … “ Belakangan, Reni memang tampak sedang hobi menggambar dengan cat air. Dia membuat gambar warna-warni untuk siapa saja; untuk Mbak Elin, Mas Chandra (suami Mbak Elin), Angga kecil, Laras dan Dhilla, bahkan untuk Tobuciler. Gambar Reni warna-warni dan kaya ornamen; meriah seperti dirinya sendiri. Ternyata, pada saat yang bersamaan, Mul, penjaga kasir Tobucil pun bertugas sambil menggambar. Gambarnya juga kaya ornamen, tapi hitam-putih detail, ditoreh dengan drawing pen 0.1. “Ini teh namanya jenis gambar apa, sih ? Vignet, bukan ?” tanya Mul ketika menunjukkan kumpulan gambarnya pada Tobuciler. Hari itu tampaknya hari menggambar di Tobucil. Kemungilan wilayah Tobucil diawali dan diakhiri oleh teman-teman yang asyik menggambar hari.
Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Minggu 22 Juni 2008- Klab Rajut featuring Klab Klasik
Seperti bunga matahari terbit menghadap matahari, Dinda duduk merajut menghadap Mbak Upi. Hari itu Klab Rajut sangat sepi. Dinda hanya sendiri. Seperti bunga matahari terbit menghadap matahari, Mbak Upi duduk menghadap komputer. Hari itu Klab Rajut sangat sepi. Mbak Upi menjadi guru pribadi. “Emang kamu lagi mau ngerajut apa ?” tanya Tobuciler. “Nggak tau,” sahut murid kelas tiga SLTP itu sambil terus merajut. Seperti bunga matahari memercayai matahari, Dinda percaya pada Mbak Upi. Dipasrahkannya ke mana pun rajutannya akan bertumbuh. Sementara itu, di beranda Tobucil, teman-teman Klab Klasik memainkan Trio in A-Minor. Kelaraannya berkumandang sampai ke dalam Tobucil. Seperti bunga matahari terbit mengikuti gerak matahari, lagu itu mengikuti kesepian yang paling dekat dengannya … Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Senin 9 Juni 2008- Klab Nulis Generasi Baru Edisi ke Dua
Salah seorang peserta Klab Nulis tampak sangat bersemangat. Dia sudah hadir di Tobucil satu jam sebelum Klab dimulai. “Ini langsung dari kantor,” ujarnya, “mulainya setengah lima kan ?” dia memastikan. “Jam lima,” Wiku sang koordinator Klab meluruskan. “Enggak, ah, setengah lima. Di blog ditulisnya setengah lima !” kata peserta itu penuh keyakinan. Wiku menoleh pada Tobuciler. Tobuciler angkat bahu. Wiku lalu meninggalkan daerah kasir Tobucil dengan wajah galau dan tidak yakin. Sebentar kemudian Wiku kembali. Kali ini wajahnya cerah ceria, “Bener, mulainya jam lima. Pendaftarannya, Mbak, yang tutup setengah lima. Coba, deh, entar liat,” kata Wiku. “Oh … gitu, ya …,” sahut Liya. Akhirnya, sambil menunggu, dia menjelajah Tobucil. Sambil melihat-lihat, Liya mengobrol dengan Kru Tobucil. Ternyata nggak rugi juga datang lebih awal. Liya jadi mendapat teman-teman baru, iya kan … ? Pukul lima, Klab Nulis dimulai. Selamat datang, selamat datang … selamat belajar berskenario … Sundeauntuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Selasa 10 Juni 2008- Hari itu Tobucil kedatangan teman baru yang tidak baru. Siapa dia ? Penggulung benang energi listrik !
Setelah sekian lama rusak, Mas Banung yang sering disebut “Mario Bros” memperbaiki alat tersebut. Hari itu si penggulung diantar kembali; siap mengabdi untuk karir perdagangan benang di Tobucil. Cukup dengan menekan steker hitam yang disusupkan di celah meja, si penggulung berputar sendiri. Kru Tobucil dapat mempercayakan kumparan benang kepadanya. Ternyata, teman-teman, penggulung benang ini adalah pekerja yang bersemangat. Suaranya rempong seperti bajaj, dan tenaganya kuat seperti traktor. Ketika dia berputar menggulung benang, seluruh meja bergetar-getar. Semua benda yang ada di sana berlompatan. Mencium bantal, membentur kursi, dan menghantam lantai. Dia rajin dan berdedikasi, bahkan cenderung membabi buta. Sekejap saja, bertumpuk-tumpuk gulungan benang sudah menyesaki meja Tobucil, seperti terlihat di foto berikut ini … Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Kamis 12 Juni 2008- Ketika Mbak Elin dan Mas Andre sedang seru mengobrol, seorang Mbak menghampiri kasir Tobucil. Sambil membawa katalog benang, dia berdiri bingung.
“Ada apa, Mbak ?” tanya Mbak Elin. “Ini … saya mau tanya … saya kan mau bikin souvenir buat nikahan. Ada yang punya ide, nggak ?” tanyanya. Selanjutnya, Mbak yang bernama Mbak Christine ini terlibat obrolan menyenangkan dengan Kru Tobucil. “Tadinya saya mau bikin magnet babi sama kambing. Saya kan shionya babi, dia (calon suami Mbak Christine-red) kambing,” ungkapnya. “Mending bikin gantungan kunci aja, kan lebih bisa kepake,” usul Mas Andre. “Iya, atau buat handphone,” sambung Mbak Elin. “Atau bikin makhluk yang campuran babi sama kambing gitu, Mbak,” usul Tobuciler. Mbak Elin menatap Tobuciler kurang setuju, “Bukannya serem, ya … ?” Ternyata Mbak Christine adalah pemilik pabrik benang Indovon, Rancaekek. Katalog yang dia bawa adalah katalog benang-benangnya sendiri. Rencananya, benang itulah yang akan dipakai untuk membuat souvenir. Warnanya lucu-lucu. Sayangnya, mungkin benang acrylic Mbak Christine terlalu tipis untuk dirajut. “Kita orderin ke Danu aja,” usul Mbak Elin. “Iya, iya, Danu kan bisa, tuh, bikin-bikin yang kayak gitu …,” dukung Mas Andre. Maka Mbak Elin menelpon Mas Danu. “Ya udah … entar saya sesuaikan aja dengan Mbak Danunya, ya ….,” kata Mbak Christine. “Danu itu cowok,” sahut semua Kru Tobucil hampir bersamaan. “Oh,” tanggap Mbak Christine. “Di sini pria-prianya emang jago-jago bikin-bikin kerjinan,” Mbak Elin menginformasikan. “Oh, gitu, ya …,” sahut Mbak Christine, masih tampak terkejut Mas Danu Purwoko kita tidak mungkin seorang perempuan. Dia lebat berbrewok dan bersuara berat. Lagi pula, seperti kata Mas Andre, kalau perempuan, namanya pasti Danuwati atau Danunita. Sundea
untuk melihat artikel dengan foto klik di sini
-Tobucil, Senin 2 Juni 2008- “Usaha, dong, Sayang, usaha …” lagu di sebuah iklan pompa air “Apa yang terjadi kalau kabel internetnya dicolok ke laptop gue? Laptop gue kan ada modemnya … ,“ cetus Mas Andre ketika modem Tobucil sedang jebol-jebolnya. Tanpa banyak bicara lagi, Mas Andre segera beraksi. Tobuciler berusaha menangkap moment itu dengan kamera dan kemampuan memotret seadanya ….
“Yaaah … kabelnya kurang panjang ! Sia-sia, deh, usaha gue !” sesal Mas Andre sambil memulangkan kabel internet ke posisi sebelumnya. Selanjutnya, kabel tetap di cangkangnya. Internet pun tetap tidak bernyawa. Sundea
untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Rabu 4 Juni 2008- Siang itu, sekelompok teman SMU berkumpul di beranda Tobucil. “Klab baru, tuh, Klab UAN (Ujian Akhir Nasional-red),” kelakar Wiku. Sambil menyeringai menanggapi, Tobuciler bergabung dengan teman-teman yang tampak serius belajar itu. “Dari SMA mana, nih ?” tanya Tobuciler. “SMA 3,” sahut mereka hampir bareng. “Waktu itu ada temen-temen SMA 3 yang ke sini juga, shooting buat tugas Bahasa Indonesia,” ujar Tobuciler. “Iya aku juga ikut,” kata Agitha ceria. “Aku udah tiga kali ke sini, dua kali belajar, satu kali main. Abis enakan belajar di sini daripada di di kantin,” lanjutnya. “Orang kantin kita penuh sama anak SMA 5,” komentar Ami sambil tetap asyik mengerjakan soal matematika. Ternyata, teman-teman, pemasukan terbesar kantin SMA 3 justru datang dari SMA 5. “Kalau anak 3 jajan cuma 5 porsi, anak 5 bisa 25 porsi,” kata Agitha yang pernah meneliti materi ini untuk tugas karya tulisnya. Wow … Agitha, Rizkie, Maria, Ami, dan Tidy berencana sering-sering belajar di Tobucil. “Soalnya enak aja, tempatnya tenang,” ujar mereka. Hmmm … kalau Kru Tobucil jajan 10 porsi dalam sehari, siapa tahu teman-teman kita yang dalam masa pertumbuhan ini bisa jajan 50 porsi sehari ? Ketika kantin mereka dirambah tetangga, moga-moga mereka merambah warung kami … =p Sundea untuk melihat artikel dengan foto klik di sini
-Tobucil, Senin 26 Mei 2008- Klab Nulis Generasi Baru Sophan Ajie tahu-tahu menebar surat cinta ! Wah … ada apa, nih …? Ooo … surat cinta itu berisi kritik, saran, dan dukungan untuk teman-teman Klab Nulis Generasi Baru edisi pertama. Hari itu Klab Nulis Generasi Baru edisi pertama rampung. Berakhirlah pertemuan empat pekan yang beranggotakan empat teman juga. Sambil menenteng goodie bag berisi notes dan surat cinta, Andika, Devi, Mawan, dan Ophan berfoto bersama. Sayang sekali Evie, salah satu anggota Klab Nulis, tidak bisa ikut hadir hari itu … Klab Nulis Generasi Baru Edisi ke dua siap digelar. Ada yang mau ikutan … ? Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Kamis 29 Mei 2008- Klab Klasik ? “Lho? Kok ada Klab Klasik, sih ? Ini kan bukan Minggu,” pikir Tobuciler saat melihat Syarif dan Bil bermain gitar di beranda Tobucil. Sambil garuk-garuk kepala Tobuciler masuk ke dalam Tobucil. Sementara itu, Carawitta and Fugue yang gulana dan mendayu mengalun dari gitar Syarif dan Bil. Saat Tobuciler keluar, Syarif, Bil, ketambahan Mas Rosgani dan Mas Trisna, sudah mengobrol serius. “Kenapa, ya, orang kalau ngerenung atau ngerefleksiin sesuatu jatohnya selalu ke dark side?” tanya Syarif dengan wajah lelah menanggung permasalahan hidup. “Ah, enggak juga,” sanggah Bil. “Iya. Kok lo bisa mikir gitu?” tanya Tobuciler. “Gue baru mikir, kayaknya enak, ya jadi Reni. Sementara murid gua (Syarif mengajar gitar klasik-red) cerita, dia seneng di Kidzania karena bisa jadi orang gede. Waktu kecil kita pengen jadi orang gede, pas udah gede pengen jadi anak-anak. Anak-anak kayaknya memandang segala sesuatu dari sisi terangnya terus,” curhat Syarif . Dari sana, “Klab Klasik salah hari” itu menjelma menjadi Klab Filsafat yang … salah hari juga. Syarif, Bil, Mas Rosgani, dan Mas Trisna berdiskusi serius tentang anak-anak, hidup, dan intuisi. “Kalau misalnya saya tanya, apa yang ada di pikiran kalian tentang ‘jalan’, kalian jawab apa,” Mas Rosgani tahu-tahu mengajukan pertanyaan. “Jalan berbatu, jalan beraspal …,” kata Bil. “Jalan Dago …,” kata Syarif. “Itulah bedanya. Ketika saya tanya sama anak-anak, mereka bilangnya ‘jalan itu kabel’, ‘jalan itu pohon’,” ujar Mas Rosgani. Selanjutnya, terjadi pembicaraan mengenai cara berpikir yang intuitif. “Nietzche juga percaya pada intuisi. Dia bilang sains yang serba pasti itu pun diturunkan dari penelitian yang penelitinya menggunakan intuisi,” ungkap Syarif. “Sains sendiri nggak lepas dari intuisi. Euclides pernah bicara tentang aksioma; dalil yang tidak bisa dibantah, tapi tidak bisa dibuktikan secara matematis. Misalnya, dua titik yang dihubungkan pasti adalah sebuah garis, “papar Bil yang mahasiswa ITB itu. Diskusi berat itu terputus ketika Mas Trisna yang sejak awal hanya mesem-mesem sambil main gitar, tahu-tahu angkat bicara, “Pulang dulu …,” pamitnya sambil masih mesem-mesem. Kemudian dia dan Mas Rosgani pun meninggalkan arena. “Mungkin gua lagi stress karena skripsi, ya, makanya gua jadi mellow,” ujar Syarif sambil tersenyum satir. “Ooo … jadi kalian gigitaran hari ini karena lagi stress?” tanya Tobuciler pada Syarif dan Bil. “Kaga, gua, sih pengen maen-maen aja abis ujian sekalian nemenin Syarif yang lagi stress,” sangkal Bil. Carawitta and Fugue karya Fauzie Wiriadisastra mengalun lagi. Syarif dan Bil memetik gitar dengan raut serius. Siang itu mendung. Suasana malam Jumat jadi terasa benar; entah memeluk, entah mencengkram. Sundea
untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Senin 19 Mei 2008- Meski rukun berjajar, tidak semua penghuni kulkas Tobucil dikomersilkan. Kru Tobucil kadang menitipkan properti pribadinya di sana. Jadi, kalau pada suatu kali tertarik pada salah satu personil kulkas, sebaiknya kamu bertanya dulu. Senin lalu, seorang Mbak tergoda pada Activia Mbak Upi yang bertengger manja di rak kulkas. Tanpa prasangka, dia mengeluarkan Si Activia dari kulkas. “Teh, ini sendoknya mana, ya?” tanyanya pada Mbak Elin yang bertugas pagi itu. “Pake sendok Tobucil aja, ya, yang kecil,” sahut Mbak Elin sambil beranjak ke dapur. Karena sedang serius dengan pembukuan, dia tidak terlalu memperhatikan asal-usul Si Activia. Selang beberapa waktu kemudian, setelah ber-hot spot sambil makan Activia, Si Mbak masuk ke Tobucil. “Tadi Activianya berapa ?” tanyanya. “Oh … sebentar …,” sahut Mbak Elin sambil memeriksa daftar harga. “Wah … kayaknya nggak dijual, nggak ada di daftar harga soalnya, ya udah, deh, seribu aja,” kata Mbak Elin sekenanya. “Tapi nggak mungkin, Mbak … soalnya biasanya dua ribu lima ratus …,” sangkal si pengudap Activia yang jujur dan baik hati itu. “Oh, ya udah. Dua ribu lima ratus kalau gitu,” kata Mbak Elin akhirnya. “Banyak, kali, kejadian gitu. Aqua gua waktu itu juga mau dibeli sama Si Ami (tutor madrasah filsafat-red). Itu malah lebih parah. Udah gua minum setengah,” cerita Mas Andre setelah mendengar kabar insiden Activia. Waduh … Haruskah Tobucil membuat batas di kulkas ? Tapi, bukannya itu berarti kita mencegah penghuni kulkas bergaul bebas ? =p Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Minggu, 25 Mei 2008- Pada hari ulang tahun Mbak Elin, Tobucil didatangi teman-teman dari SMU 3. Apa mereka ingin merayakan ulang tahun Mbak Elin? Ternyata tidak. Tampaknya mereka bahkan tidak tahu kalau hari itu Mbak Elin ulang tahun … hehehehehe … “Kita shooting buat tugas Bahasa Indonesia,” ujar Pami, teman yang selalu membawa handycam. Rupanya murid-murid kelas dua SMU ini ditugaskan membuat berita televisi. Nama acara mereka “Warta Tilu”, berita yang disampaikan seputar SMU 3. Lha … terus kenapa shootingnya di Tobucil ? “Kata temen-temen aku di sini tempatnya bagus dan sepi,” Pami menyampaikan alasannya. Proses shooting tampak ceria dan menyenangkan. Pami yang menjadi kamerawati sekaligus sutradara sibuk mengarahkan Bintang dan Arum yang bertugas membacakan berita. Ketika gambar diambil, Bintang menyadari sesuatu, “Selamat … apa, ya?” Lalu jeda. Semua kebingungan. “Ya udah, pagi aja, ya …,” akhirnya Bintang memutuskan sendiri. Dan menjelmalah siang yang mendung itu menjadi pagi. Kemudaan dan kecerahan teman-teman SMU 3 ternyata menentukan waktu. Sundea untuk melihat artikel dengan foto, klik di sini
-Tobucil, Senin 12 Mei 2008- “… there's a little black spot in the sun today …” King of Pain – The Police
Siang itu, ada serumpun nuansa kuning-hitam yang memasuki pintu Tobucil. Wow, ternyata sebuah keluarga ! more
-Tobucil, Rabu 14 Mei 2008- Madrasah filsafat “… I’ll cross the stream, I have a dream …” I Have a Dream –ABBA Hari itu tema madrasah filsafat terbilang menarik. Mimpi. Whuaaaa … Seperti minggu sebelumnya, lagi-lagi beranda Tobucil dipadati mahasiswa. Cukup menyenangkan karena beberapa dari mereka melempar wacana yang menarik. Misalnya Acan, mahasiswa jangkung bermata sendu, “Kalau menurut saya, mimpi itu jenisnya macam-macam. Ada yang kayak sinetron, ada yang kayak iklan, ada yang kayak sinetron hidayah, ada juga yang kayak iklan adzan maghrib …” mendengar istilah yang terakhir, segenap masyarakat madrasah filsafat tergelak. “Iya, ya, adzan maghrib itu ...
more
-Tobucil, Jumat 16 Mei 2008- Ciluk …..
Wah… ada pemuda baru yang menduduki tampuk kekasiran. Tobuciler langsung mengajaknya mengobrol.
Tobuciler : Hari pertama jaga, Mas?
more
-Tobucil, Senin 5 Mei 2008- Klab Nulis (generasi baru) “Lah … dia lagi,” sambut Tobuciler ketika melihat Andika di Klab Nulis Generasi Baru. Andika yang tampaknya sadar akan keeksisannya di area Tobucil dan sekitarnya hanya menyeringai. more
-Tobucil, Rabu, 07 Mei 2008- Madrasah Filsafat Madrasah Filsafat hari itu penuh sesak dengan mahasiswa Unisba (Universitas Islam Bandung) yang gelisah memenuhi syarat kuliah. Akibatnya, banyak pula hadirin yang menjadi gelisah mencari posisi duduk yang nyaman dan mapan. Sekumpulan orang gelisah tersebut lalu larut dalam topik “Gelisah” yang disuguhkan Madrasah Filsafat. “Teman-teman lebih baik gelisah atau tenang?” tanya Mas Dauz yang memang gemar membuat gelisah orang lain. more
“DORRRR !!!” Mbak Elin menarik pelatuk pistol-pistolan yang digenggamnya. Kertas kilau warna-warni berhamburan keluar, menyambut wajah Andika yang kaget dan kebingungan. more
| |